Saat aku mencintaimu, daun-daun akan berguguran dan menutupi seluruh jalan di kota ini karena ikut merayakan haru sendu syahdu hatiku padamu. Akan membuat petugas kebersihan yang digaji kecil tetapi tugasnya amatlah berat menggerutu sepanjang hari karena daun itu tak akan habis-habisnya berguguran.
Saat aku mencintaimu maka aku akan melupakan apapun bahkan untuk berlari ketika rumahku terbakar dan apinya sudah mencapai kamarku. Aku hanya melihat dan menikmati kobaran itu mulai membakar tumpukan kertas-kertas bekas kesalahan mengetik skripsiku yang sudah menggunung dan tidak kubuang. Dan ketika api menjalar di tubuhku mulai dari jari sampai mengeritingkan bulu dadaku tak kurasa karena aku lupa akan rasa sakit.
Saat aku mencintaimu maka negara ini akan menjadi negara termiskin di dunia karena aku tak benar-benar hidup di kota ini tapi hidup dalam imaji cintaku dan aku tak mau membayar pajak sehingga pemerintah akan berkurang pemasukannya sebesar tiga-ratus-ribu-rupiah dalam sebulan dan akan terjadi inflasi besar-besaran, rupiah melemah, tidak akan ada investasi, rakyat kehilangan pekerjaan, kelaparan dan kemiskinan merajalela di mana-mana.
Saat aku mencintaimu maka cintailah aku karena kalau kau tidak mencintaiku maka aku akan bunuh diri dengan menyayat nadiku dan kubiarkan darah itu mengalir kemana-mana. Menetes dari meja belajarku, melewati bawah pintu kamarku, menuruni tangga menuju ke ruang tamu kemudian berbelok karena disana ibuku sedang duduk di lantai beralaskan permadani sambil menghitung laba hari ini. Aliran darah terus mengalir sampai ke jalan melewati hiruk pikuk orang dan lalu lalang kendaraan, berhenti sejenak kala lampu merah di persimpangan jalan, membagi dua ke kiri dan ke kanan. Yang ke kiri terus menuju ke halaman rumah tua melewati roda mobil jeep yang selalu parkir di depan rumah, masuk melalui pintu utama berbelok mengindari permadani kemudian berhenti tepat di depanmu yang sedang menonton infotainment sore itu. Saat itu kau coba membersihkan darah itu dengan menghabiskan bergulung-gulung tisu sampai kau sadar bahwa kau sudah tenggelam dalam lautan darah dan seluruh kota ini sudah dibanjiri darah bak banjir bandang kala Nabi Nuh.
Yogyakarta, Seperempat Desember 2005