Satu persatu roh ku meninggalkanku
Apakah ini yang dinamakan kesepian?
Aku baru merasakannya, saat darahku seakan terhenti
Di tengah suasana yang semuanya berwarna putih
Putih yang begitu menyilaukan
Kutelungkupkan wajahku di antara dua lutut dan kusilangkan tanganku kepadanya
Satu persatu mereka meninggalkanku
Tak ada lagi yang akan menamparku
Tak ada lagi yang kuajak mabuk hingga muntahku membajiri kota ini
Tak ada lagi keringat bercampur debu yang membaui hidung kota ini
Tak ada lagi si bajingan, si asu, si keparat, si babi, siapa?
Aku tahu saat ini memang akan datang
Dimana aku akan berjemur sendiri di terik matahari
Berlari sendiri dengan senyum yang kupaksakan
Apakah memang sudah saatnya
Atau memang aku yang belum siap
Kuludahi semua muka mereka yang meninggalkanku
Karena tak boleh ada yang meninggalkanku
Atas keegoisanku ini
Kupersembahkan tangisan pilu ditengah deru dunia yang makin cepat
Aku tak mau sendirian…
Aku menangis memohon…
Yogyakarta, Awal Januari 2006