Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?
Gemuruhkah masih sekembar masa lalu
Ilalang yang kau tebas masih membekas paras
Tak lekang oleh tarikan waktu
Sobatmu kan cerita di sini
Apa yang mengaliriku sebatas hening bunga malam tak bertuan
Kiranya dikau bisa mengertiku
Disini, sepatuku masih tercampakkan oleh lumpur
Parlan, apa pula yang dicari manusia
Bangkai kawannya kukira
Begitu pula disini, saat materi menjadi Tuhan bagi segalanya
Tangan ini sudah berselaput darah
Parlan, sepi yang jahat selalu menggelayutiku
Walaupun diantara sejuta bidadari
Kasihnya tak selegit rekah bibirnya
Hanya lenguhan lirih yang tersisa dalam dadaku
Di dalamnya hampa tak ada cinta
Parlan, sudahkah kau menemukan takjuban alam yang menjadi takdirmu
Disini aku masih mengukir legenda pribadiku
Dimana halaman pertamanya terdapat coretan buah tanganmu
Mungkin kau tak merasakannya
Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?
Sobatmu kan menunggu ceritamu.
Sungkai, Maret 2006