Entah mengapa aku begitu menyenangi kata itu (menggelinding). Kutemukan pertama kali saat dosen Seismologiku Ir. Djoko Wintolo, DEA memberikan wejangan tentang hidup. Beliau bercerita tentang jalan hidupnya yang tak pernah ia rencanakan atau sangkakan sehingga menjadi seperti ini. Beliau mengibaratkan bahwa hidupnya seperti banyu mili. Air (banyu) itu akan mengalir mengikuti kemanapun aliran sungai membawanya, mengikuti lekuk lembah, menjadi satu dengan aliran sungai lain, mengendap ke dasar tanah atau mengalir pelan sambil berkelok dengan tujuan yang tak lain adalah di sebuah muara lautan. Atau menggelinding, magma yang membeku akan membentuk batuan, saat batuan terlapukkan maka akan menjadi butiran yang besar kemudian menjadi batuan lain atau tertransport oleh air atau angin dengan menggelinding menjadi butiran yang lebih kecil sampai akhirnya menjadi lempung yang mengendap di dasar laut. Seperti pula buku Menggelinding 1 karya Pramoedya Ananta Toer yang berisi kumpulan tulisannya berupa esai, sajak, atau tulisan lainnya dari tahun 1947 – 1956 sehingga nampak kilas balik proses kepengarangan Pram. Hidup itu adalah proses yang cukup rumit yang harus dilewati walaupun tujuannya tetap sama yaitu sampai ke muara kehidupan yang tak lain adalah kematian. Kembali lagi, hidup itu tak lain hanyalah mengenai sebuah proses sobat …
« Kenangan
Menggelinding
March 13, 2009 by iwantolet
Posted in Prosa | Tagged menggelinding | Leave a Comment
Leave a Reply Cancel reply
Katastropi
Mencoba merangkai lagi karya sastraku berupa cerpen, puisi ataupun prosa. Beberapa tulisan sudah pernah di terbitkan dalam media independen dengan judul Katastropi dan Kilometer Nol. Silahkan membaca.Kalender
Kategori Tulisan
Kategori Tag
-
Tulisan Terbaru
-
Komentar Terbaru
nn on Senja Untuk Perempuanku dek icha on Surat Untuk Bapak iwantolet on Halaman Tamu Dewi asmara rani on Halaman Tamu iwantolet on Penulis Tulisan Terdahulu
-
Top Posts
Menengok Belahan Dunia
-
Dilihat Sebanyak
- 2,118 Klik
ANTAREJA bingungMeta