Posted in Puisi, tagged api, cinta on May 24, 2008 | Leave a Comment »
Sebuah pelajaran berharga bagi para pecinta
Tak pantas baginya untuk menyandang cinta sejati
Dikutuk ke dalam api kenistaan egoisme sepi
Yang dianggapnya paling benar
Tapi hanya semu semata
Bermain api memang kadang menyenangkan
Kepakan kupu-kupu disini mungkin menjadi badai di tempat lain
Hanya penyesalan yang akan menjadi cerita penutup
Tak cukup dengan kata maaf
Yang mungkin cuma sekedar ucapan [...]
Read Full Post »
Posted in Puisi, tagged sahabat on April 29, 2008 | Leave a Comment »
Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?
Gemuruhkah masih sekembar masa lalu
Ilalang yang kau tebas masih membekas paras
Tak lekang oleh tarikan waktu
Sobatmu kan cerita di sini
Apa yang mengaliriku sebatas hening bunga malam tak bertuan
Kiranya dikau bisa mengertiku
Disini, sepatuku masih tercampakkan oleh lumpur
Parlan, apa pula yang dicari manusia
Bangkai kawannya kukira
Begitu pula disini, saat materi menjadi Tuhan [...]
Read Full Post »
Posted in Puisi, tagged sahabat on April 29, 2008 | Leave a Comment »
Satu persatu roh ku meninggalkanku
Apakah ini yang dinamakan kesepian?
Aku baru merasakannya, saat darahku seakan terhenti
Di tengah suasana yang semuanya berwarna putih
Putih yang begitu menyilaukan
Kutelungkupkan wajahku di antara dua lutut dan kusilangkan tanganku kepadanya
Satu persatu mereka meninggalkanku
Tak ada lagi yang akan menamparku
Tak ada lagi yang kuajak mabuk hingga muntahku membajiri kota ini
Tak ada lagi keringat [...]
Read Full Post »
Posted in Puisi, tagged mama on April 28, 2008 | Leave a Comment »
Mamaku pernah berkata padaku
bahwa aku akan menjadi seorang pengelana di dunia ini
Di tubuhku akan tergores puluhan belati
atas orang-orang yang pernah kukalahkan karena menghalangi langkahku
Mamaku selalu tersenyum kala dia meraba pipiku
dan menemukan bulu-bulu tipis yang tumbuh di sana
Kemudian menutup kegelisahannya dengan mencium keningku
dan membiarkanku terlelap tidur dalam pangkuannya
Mamaku berkata bahwa aku mempunyai ekor
dan ekor [...]
Read Full Post »
Posted in Puisi, tagged pulang on April 28, 2008 | Leave a Comment »
Saat mentari terbit esok hari
Aku akan berjalan menuju senja
bahkan ketika orang tuaku berteriak di belakang
memanggil-manggil namaku
Saat itu aku hanya berjalan lurus ke depan
dan hanya membawa sebuah tas kecil yang terpagut di pinggang
Di dalamnya ada secarik kertas yang bertuliskan
Aku Pulang…
Yogyakarta, 24 Nov 05
Read Full Post »
Posted in Puisi, tagged cinta, waktu on April 28, 2008 | Leave a Comment »
Saat ingat bunga rampai cerah wajahmu
Sambutku di depan pintu
Aku remas buah tangan untukmu
Senja merah tampak pada wajahku
Hanya kutatap kakimu
Takjub…
Tak seperti yang kukira
Ada yang berbeda dengan dirimu
Entah kenapa ada pita yang mengikat nadiku
Aku dewasa menjadi kanak-kanak
Kau tetap kau, entah beda…
Aku tak tau…
Aku terus mendayung
Di derasnya sungai percakapan
Perahuku kadang oleng
Karena aku mendayung dengan mata terpejam
Apakah [...]
Read Full Post »
Posted in Puisi, tagged cinta, kekasih on April 28, 2008 | Leave a Comment »
Perjumpaan itu selalu singkat
Oh… Kekasihku…
Bara yang menyala dalam dadaku
Memaksaku untuk berpaling
Perjumpaan itu selalu singkat
Oh… Kekasihku…
Cinta itu kadang buram
Terselimuti kabut lenggokan tarian
Perjumpaan itu selalu singkat
Oh… Kekasihku…
Kadang rindu tak datang
Batinku tak selaras dengan tubuhku
Mataku selalu ditutupi tabir
Tabir yang kadang kunikmati
Apakah Kau cinta padaku?
Maafkan aku sebelum saatku nanti
Solo, Malam Takbiran 2 Nov 05
Read Full Post »
Posted in Puisi, tagged cinta, nama on April 28, 2008 | Leave a Comment »
Kunamai dirimu Saja
karena aku takmau mengulang-ulang namamu saja
Kunamai dirimu Saja
karena aku takmau ketika menulis aku teringat wajahmu saja
Kunamai dirimu Saja
karena namamu jadi lebih mudah diucapkan dengan 4 huruf saja
Kunamai dirimu Saja
karena aku mau kau hanya mencintaiku saja
00:20, Sidoarum, 24 April 2005
Read Full Post »