Feeds:
Posts
Comments

Menggelinding

Entah mengapa aku begitu menyenangi kata itu (menggelinding). Kutemukan pertama kali saat dosen Seismologiku Ir. Djoko Wintolo, DEA memberikan wejangan tentang hidup. Beliau bercerita tentang jalan hidupnya yang tak pernah ia rencanakan atau sangkakan sehingga menjadi seperti ini. Beliau mengibaratkan bahwa hidupnya seperti banyu mili. Air (banyu) itu akan mengalir mengikuti kemanapun aliran sungai membawanya, mengikuti lekuk lembah, menjadi satu dengan aliran sungai lain, mengendap ke dasar tanah atau mengalir pelan sambil berkelok dengan tujuan yang tak lain adalah di sebuah muara lautan. Atau menggelinding, magma yang membeku akan membentuk batuan, saat batuan terlapukkan maka akan menjadi butiran yang besar kemudian menjadi batuan lain atau tertransport oleh air atau angin dengan menggelinding menjadi butiran yang lebih kecil sampai akhirnya menjadi lempung yang mengendap di dasar laut. Seperti pula buku Menggelinding 1 karya Pramoedya Ananta Toer yang berisi kumpulan tulisannya berupa esai, sajak, atau tulisan lainnya dari tahun 1947 – 1956 sehingga nampak kilas balik proses kepengarangan Pram. Hidup itu adalah proses yang cukup rumit yang harus dilewati walaupun tujuannya tetap sama yaitu sampai ke muara kehidupan yang tak lain adalah kematian. Kembali lagi, hidup itu tak lain hanyalah mengenai sebuah proses sobat …

Advertisements

Kenangan

Kenangan, hanya muncul saat kita merasa mengingat kejadian di masa lampau. Semakin lama kejadian yang kita kenang maka kenangannya akan semakin menderu. Atau bisa saja dipicu dengan pertemuan dengan sebuah benda atau seseorang yang tidak kita rencanakan yang mempunyai kaitan dengan kejadian di masa lampau.

Kejadian di masa lampau pun tidak seluruhnya akan bisa kita kenang. Kejadian yang akan kita kenang biasanya adalah kejadian yang tidak biasa kita temui selama hidup kita. Bisa merupakan kejadian yang menyenangkan, menyedihkan, menyakitkan, memuakkan, dan apapun itu. Dari semua kejadian tersebut biasanya hanya terpilah menjadi dua kenangan, yaitu kenangan baik dan kenangan buruk.

Menjadi sebuah konsekuensi logis apabila kita menerima sebuah kenangan karena manusia yang sehat justru yang mempunyai kenangan pada otaknya. Tidak akan menjadi masalah apabila kita menerima kenangan yang baik tetapi juga tidak bisa dihindari seburuk apapun kenangan yang kita terima.

Manusia yang sehat akan menerima kenangan. Kenangan yang baik akan menambah sehat rohani kita, kenangan yang buruk bisa membuat seseorang merasa frustasi karena tidak bisa menghapusnya. Memiliki kenangan bisa membikin kita tidak sehat. Apakah saat sakit jiwa kita bisa punya kenangan kala kita sehat?

Surat Untuk Bapak

Bapakku yang sebatang kara. Apa kabar dengan tubuhmu? Masihkah kau paksa untuk mengolah ladang yang selalu merugi? Apa kabar dengan hatimu? Masihkah sekeras masalalu? Saat kau usir semua orang yang mengasihimu.

Aku tak mengasihimu tapi aku menyayangimu. Dan akupun tau kau merasakan juga sepertiku saat matamu memandangku pergi sampai menjadi sebuah titik di ujung panorama. Sudah cukup bagiku pandangmu temaniku pergi karena aku tau tak ada apapun yang bisa kau berikan padaku untuk bekalku. Pandangmu lebih dari cukup bagiku karena mata lebih jujur daripada kata-kata.

Sudah 10 tahun berlalu Pak, dan Kau masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Aku tau Kau begitu mencintai ibu begitu pula dengan aku. Kau masih hidup dengan kenanganmu dan melupakan segala macam duniawi termasuk anakmu satu-satunya, buah cinta antara Kau dan Ibu. Kesepian dan keras hati Kau jadikan jalan keluar segala macam kekecewaan atas dipanggilnya Ibu ke Rahmatullah. Semua orang kampung menjadi benci terhadapmu dan enggan untuk berurusan apapun denganmu. Kau tak terima bahwa mereka bahagia dengan istri-istri mereka sedang masa-masamu sudah berakhir.

Dengan keras hatimu Kau usir semua rasa tulus simpatik mereka terhadap kita, Kau larang diriku untuk menerima belas kasihan mereka bahkan Kau larang diriku untuk bergaul dengan teman sebayaku. Kau mencari teman untuk penderitaanmu, dan anakmu satu-satunya kau jadikan tumbal. Kau tutup rapat-rapat pintu rumah bahkan sinar matahari pagipun tak Kau ijinkan masuk. Rumah yang terang Kau ubah menjadi kelam sekelam hatimu. Sehari-hari Kau hanya diam membisu, merenung dan menatap kosong. Apa yang bisa ku syukuri adalah Kau masih mau untuk bekerja menggarap ladang kecil kita sehingga walaupun sekepal nasi kita masih bisa makan. Pak, Kau tau apa yang kupikirkan. Ibu akan menangis di sana melihat keluarganya menjadi seperti ini. Cintamu terhadap ibu merusak dirimu sendiri dan orang-orang yang ada di sekitarmu, termasuk aku. Sudah 10 tahun pak…

Kau sudah tidak muda lagi. Sebelum aku pergi, aku sering memperhatikanmu yang sering terbatuk tengah malam, dan rambut putihmu yang mulai tumbuh subur. Untuk bangun dari tempat tidurpun Kau sudah mulai payah. Tangan dan kakimu sudah lemah tidak seperti dulu lagi. Sadarlah Pak, Kau sudah renta dan saat ini sebatang kara. Kala umur sudah mempengaruhi tubuhmu, maka Kau akan seperti bayi lagi dan membutuhkan seseorang disampingmu. Tapi dengan keras hati kau usir semua orang yang mengasihimu.

Aku tau Kau merasa lebih tersiksa dan kesepian, tapi apa daya Pak aku harus membuktikan kepadamu bahwa aku adalah anakmu satu-satunya yang punya cita-cita dan masadepan. Masadepanku bukanlah masadepan kesedihan dan keras hati terus menerus yang Kau pelihara. Maafkan aku Pak, aku ambil resikonya untuk menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang Kau benci di dunia ini.

Aku tak mengasihimu tapi aku menyayangimu. Saat Kau merasakan jari tanganmu tak bisa Kau gerakkan lagi, matamu mulai redup memandang foto Ibu, kakimu kesemutan saat kau jejakkan ke tanah dan nafasmu mulai saling mendahului kudoakan semoga Kau tak mati dengan sia-sia karena keras hatimu.

Bapakku, anakmu kan selalu mengingatmu disini.

11 September 2007

Panah Cinta

Manusia selalu dipusingkan dengan masalah cinta. Cinta diciptakan di tengah gemuruh ombak perkembangan jaman. Kultur sosial, budaya, dan permasalahan agama yang tiada henti-hentinya. Diciptakan untuk bisa/wajib dikompromikan dengan berbagai hal. Salah satu ujian kedewasaan adalah melampaui tahapan cinta.

Tidak akan menjadi menarik, menjadi asyik, menjadi cantik apabila tidak ada cinta di dunia ini. Untuk apa otak manusia diberikan oleh Tuhan. Sinkronisasi antara logika dan perasaan merupakan pukulan yang keras terhadap kemampuan otak kita. Yang terasah dan yang masih berdenyut adalah pemenangnya. Tidak ditentukan dari kebahagiaan, tapi dari pencapaian diri menjadi sesuatu yang stabil dimana antara tubuh dan pemikiran merupakan unsur yang “unbreakable”.

Kata temanku, cinta berkepribadian ganda. Lebih tepatnya pisau bermata dua yang dimiliki oleh Sengkuni. Ukurannya beberapa mili mikron tapi mampu meledakkan gunung, membunuh dan memusnahkan untuk selama-lamanya. Panahnya yang tumpul pun mampu mengguncang magma cair bumi manusia untuk meledak kemudian. Panahnya yang tajam mengusir Adam-Hawa keluar dari taman Firdaus.

16 September 2007

Bermain Api

Sebuah pelajaran berharga bagi para pecinta

Tak pantas baginya untuk menyandang cinta sejati

Dikutuk ke dalam api kenistaan egoisme sepi

Yang dianggapnya paling benar

Tapi hanya semu semata

Bermain api memang kadang menyenangkan

Kepakan kupu-kupu disini mungkin menjadi badai di tempat lain

Hanya penyesalan yang akan menjadi cerita penutup

Tak cukup dengan kata maaf

Yang mungkin cuma sekedar ucapan di bibir saja

Baginya tak ada yang lebih menarik daripada rasa penasaran

Akan dahaga sebuah perasaan baru

Yang tak ditemui di dunia yang ditatapnya

Baginya kurang, baginya hambar, baginya lapar

Ada lagu baru katanya

Ada wangi baru katanya

Ada rasa baru katanya

Ada kisah baru katanya

Bersembunyi dibalik keberadaban

Yang masih bertahan tapi entah kapan akan dijadikan alkitab

Bagi orang-orang sepertinya

Bagi orang-orang yang hidup dalam dunia yang semakin murtad

Sungkai, 2 jan 06

Kalau kita hanya realis belaka dan hanya berpijak pada pragmatika data faktuil, yang terjadi maka kita pasti akan ikut tenggelam dalam rawa-rawa korup tanpa tepi, serba “explitation de l’homme”. Tetapi jika kita lari dari realita dan menjadi idealis murni, kita akan menguap, kabur, hilang.

Orang pasti bilang, kita harus kompromi. Tetapi, kompromi tanpa karakter serba oportunistis (apalagi ikut menang saja) justru akan membuat kita menjadi bola yang ditendang kian kemari sampai saatnya kita bocor tak tertolong, dibuang di lubang sampah. Apa ikut sajalah menjadi realis menjala di air keruh mumpung serba realis? Atau melawan arus bengawan menjadi paria dengan istri sakit dan anak-anak kacau?

17 Maret 2007

Keadilan

Apa itu yang dimaksud teknologi informasi, apa itu yang dimaksud dengan jaman globalisasi.

Yang ada hanyalah ucapan gombal belaka dari pemimpinku yang ku tau hanya dari orang luar yang bertandang ke desaku.

Tubuhku teramat lelah untuk menerima segala macam ucapan-ucapan yang membingungkan, atau aku teramat malu jika nanti ku ditanya kembali oleh anakku akan ucapan asing yang kuucapkan barusan dan aku tidak bisa menjawab.

Yang aku mau hanyalah keadilan. Aku tak tau jalannya menuju kesana, jikalau dengan berjalanpun akan kutempuh. Kata Si Amat tetangga sebelah; keadilan hanya bisa dicapai dengan parang.

Gembiranya hatiku, karena untuk mencapai keadilan tidaklah sukar. Kuasah parangku tajam-tajam tiap hari, sampai rambutkupun terbelah jika terjatuh di atasnya.

Berbondong-bondong kami bersuka cita untuk menyambut datangnya keadilan, parang kami acung-acungkan ke atas. Begitu semangatnya aku, tersandungpun tak terasa sakit kakiku. Kulihat wajah teman-temanku begitu semangat dan berseri-seri. “Keadilan hai keadilan aku datang menyambutmu”

Gelombang massa menjadi semakin besar dan aku sangat bangga bisa bergabung di dalamnya. Belum pernah aku segembira ini, biarlah ladang kutinggal sehari toh aku akan akan merasakan keadilan walau sekejap. Laila dan Parti, anak dan istriku sudah kusuruh untuk menyiapkan makanan terbaik menyambut ayah dan suaminya sore ini. Karena akan kuceritakan padanya bagaimana rasa keadilan sambil makan malam.

Aku ikut teriak ketika semuanya teriak memanggil keadilan. Aku ikut melompat ketika semuanya melompat meraih keadilan. Aku ikut lari ketika semuanya lari mengejar keadilan.

Kenapa semuanya berbalik arah, kenapa keadilan yang sudah dikejar tak segera ditangkap. Kali ini aku tak mau melewatkan kesempatan ini. Aku terus maju walaupun massa mundur semua.

Tiba-tiba dadaku panas, teramat panas… Apakah ini tanda-tanda datangnya keadilan? Kalau memang benar, aku akan menahannya dan terus maju. Untuk yang kedua kalinya, kali ini dada kananku panas dan teramat panas. Kutahan sekuatku demi keadilan. Aku sudah melihatnya… warnanya putih cerah menyilaukan… Kujatuhkan parangku dan kugapai dengan tanganku, menyentuhnya rasanya hangat… Aku sangat puas mendapatkannya. Laila, Parti mungkin aku tak pulang malam ini dan malam-malam selanjutnya.

20 Juni 2006