Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2008

Parlan

Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?

Gemuruhkah masih sekembar masa lalu

Ilalang yang kau tebas masih membekas paras

Tak lekang oleh tarikan waktu

Sobatmu kan cerita di sini

Apa yang mengaliriku sebatas hening bunga malam tak bertuan

Kiranya dikau bisa mengertiku

Disini, sepatuku masih tercampakkan oleh lumpur

Parlan, apa pula yang dicari manusia

Bangkai kawannya kukira

Begitu pula disini, saat materi menjadi Tuhan bagi segalanya

Tangan ini sudah berselaput darah

Parlan, sepi yang jahat selalu menggelayutiku

Walaupun diantara sejuta bidadari

Kasihnya tak selegit rekah bibirnya

Hanya lenguhan lirih yang tersisa dalam dadaku

Di dalamnya hampa tak ada cinta

Parlan, sudahkah kau menemukan takjuban alam yang menjadi takdirmu

Disini aku masih mengukir legenda pribadiku

Dimana halaman pertamanya terdapat coretan buah tanganmu

Mungkin kau tak merasakannya

Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?

Sobatmu kan menunggu ceritamu.

Sungkai, Maret 2006

Read Full Post »

Mereka Telah Pergi

Satu persatu roh ku meninggalkanku

Apakah ini yang dinamakan kesepian?

Aku baru merasakannya, saat darahku seakan terhenti

Di tengah suasana yang semuanya berwarna putih

Putih yang begitu menyilaukan

Kutelungkupkan wajahku di antara dua lutut dan kusilangkan tanganku kepadanya

Satu persatu mereka meninggalkanku

Tak ada lagi yang akan menamparku

Tak ada lagi yang kuajak mabuk hingga muntahku membajiri kota ini

Tak ada lagi keringat bercampur debu yang membaui hidung kota ini

Tak ada lagi si bajingan, si asu, si keparat, si babi, siapa?

Aku tahu saat ini memang akan datang

Dimana aku akan berjemur sendiri di terik matahari

Berlari sendiri dengan senyum yang kupaksakan

Apakah memang sudah saatnya

Atau memang aku yang belum siap

Kuludahi semua muka mereka yang meninggalkanku

Karena tak boleh ada yang meninggalkanku

Atas keegoisanku ini

Kupersembahkan tangisan pilu ditengah deru dunia yang makin cepat

Aku tak mau sendirian…

Aku menangis memohon…

Yogyakarta, Awal Januari 2006

Read Full Post »

Saat Aku Mencintaimu

Saat aku mencintaimu, daun-daun akan berguguran dan menutupi seluruh jalan di kota ini karena ikut merayakan haru sendu syahdu hatiku padamu. Akan membuat petugas kebersihan yang digaji kecil tetapi tugasnya amatlah berat menggerutu sepanjang hari karena daun itu tak akan habis-habisnya berguguran.

Saat aku mencintaimu maka aku akan melupakan apapun bahkan untuk berlari ketika rumahku terbakar dan apinya sudah mencapai kamarku. Aku hanya melihat dan menikmati kobaran itu mulai membakar tumpukan kertas-kertas bekas kesalahan mengetik skripsiku yang sudah menggunung dan tidak kubuang. Dan ketika api menjalar di tubuhku mulai dari jari sampai mengeritingkan bulu dadaku tak kurasa karena aku lupa akan rasa sakit.

Saat aku mencintaimu maka negara ini akan menjadi negara termiskin di dunia karena aku tak benar-benar hidup di kota ini tapi hidup dalam imaji cintaku dan aku tak mau membayar pajak sehingga pemerintah akan berkurang pemasukannya sebesar tiga-ratus-ribu-rupiah dalam sebulan dan akan terjadi inflasi besar-besaran, rupiah melemah, tidak akan ada investasi, rakyat kehilangan pekerjaan, kelaparan dan kemiskinan merajalela di mana-mana.

Saat aku mencintaimu maka cintailah aku karena kalau kau tidak mencintaiku maka aku akan bunuh diri dengan menyayat nadiku dan kubiarkan darah itu mengalir kemana-mana. Menetes dari meja belajarku, melewati bawah pintu kamarku, menuruni tangga menuju ke ruang tamu kemudian berbelok karena disana ibuku sedang duduk di lantai beralaskan permadani sambil menghitung laba hari ini. Aliran darah terus mengalir sampai ke jalan melewati hiruk pikuk orang dan lalu lalang kendaraan, berhenti sejenak kala lampu merah di persimpangan jalan, membagi dua ke kiri dan ke kanan. Yang ke kiri terus menuju ke halaman rumah tua melewati roda mobil jeep yang selalu parkir di depan rumah, masuk melalui pintu utama berbelok mengindari permadani kemudian berhenti tepat di depanmu yang sedang menonton infotainment sore itu. Saat itu kau coba membersihkan darah itu dengan menghabiskan bergulung-gulung tisu sampai kau sadar bahwa kau sudah tenggelam dalam lautan darah dan seluruh kota ini sudah dibanjiri darah bak banjir bandang kala Nabi Nuh.

Yogyakarta, Seperempat Desember 2005

Read Full Post »

Kata Mamaku

Mamaku pernah berkata padaku

bahwa aku akan menjadi seorang pengelana di dunia ini

Di tubuhku akan tergores puluhan belati

atas orang-orang yang pernah kukalahkan karena menghalangi langkahku

Mamaku selalu tersenyum kala dia meraba pipiku

dan menemukan bulu-bulu tipis yang tumbuh di sana

Kemudian menutup kegelisahannya dengan mencium keningku

dan membiarkanku terlelap tidur dalam pangkuannya

Mamaku berkata bahwa aku mempunyai ekor

dan ekor itu selalu dililitkan di dinding depan kasurnya

Saat dia terkenang padaku,

dipandanginya ekor itu sebelum ia tidur

Mamaku selalu berkata

bahwa ketika aku pulang nanti,

Aku akan membawa sejuta karang, sejuta pohon kelapa, sejuta air laut

dan kami akan bermain sepuasnya di pantai kami.

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Aku Pulang

Saat mentari terbit esok hari

Aku akan berjalan menuju senja

bahkan ketika orang tuaku berteriak di belakang

memanggil-manggil namaku

Saat itu aku hanya berjalan lurus ke depan

dan hanya membawa sebuah tas kecil yang terpagut di pinggang

Di dalamnya ada secarik kertas yang bertuliskan

Aku Pulang…

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Hanya Saat Itu Saja

Saat ingat bunga rampai cerah wajahmu

Sambutku di depan pintu

Aku remas buah tangan untukmu

Senja merah tampak pada wajahku

Hanya kutatap kakimu

Takjub…

Tak seperti yang kukira

Ada yang berbeda dengan dirimu

Entah kenapa ada pita yang mengikat nadiku

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Kau tetap kau, entah beda…

Aku tak tau…

Aku terus mendayung

Di derasnya sungai percakapan

Perahuku kadang oleng

Karena aku mendayung dengan mata terpejam

Apakah perahuku menabrak perahumu?

Aku bukan aku, aku menjadi beda…

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Sungai itu mengalir tidak jelas

Alirannya kadang-kadang berbalik

Aneh tapi nyata…

Perahu kita tetap tenang menuju satu tujuan

Saling mengangkat sampai melayang

Bulu-bulu itu kita pasang

Sampai kita sama-sama terbang

Aku terbang lebih tinggi

Semakin tinggi semakin rontok pula buluku

Sengaja tak kau ikat dengan benar

Aku senyum sambil melihat kau dari jauh

Tak jelas senyummu

Kaki ini terus melangkah

Terasa lama tak jumpa sungaimu lagi

Gelisah…

Kau bunuh aku pelan-pelan…

Sidoarum, 8 Nov 05

Read Full Post »

Tuk Kekasihku

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Bara yang menyala dalam dadaku

Memaksaku untuk berpaling

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Cinta itu kadang buram

Terselimuti kabut lenggokan tarian

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Kadang rindu tak datang

Batinku tak selaras dengan tubuhku

Mataku selalu ditutupi tabir

Tabir yang kadang kunikmati

Apakah Kau cinta padaku?

Maafkan aku sebelum saatku nanti

Solo, Malam Takbiran 2 Nov 05

Read Full Post »

Kunamai Dirimu Saja

Kunamai dirimu Saja

karena aku takmau mengulang-ulang namamu saja

Kunamai dirimu Saja

karena aku takmau ketika menulis aku teringat wajahmu saja

Kunamai dirimu Saja

karena namamu jadi lebih mudah diucapkan dengan 4 huruf saja

Kunamai dirimu Saja

karena aku mau kau hanya mencintaiku saja

00:20, Sidoarum, 24 April 2005

Read Full Post »

Sangkar Madu

Setiap kali aku berada di depanmu ingin rasanya mengungkapkan isi hatiku ini, tapi bibir ini tak dapat kugerakkan.

*****

S

udah lama aku memendam perasaan ini, aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Saat itu aku pertama kali datang ke ruangan ini, ruangan sempit yang berukuran kira-kira 3×3 meter dimana tempat aku bekerja.

Di dalam ruangan ini entah berapa orang yang sudah menjamah diriku atau hanya memandang tubuhku. Ada yang mencibir tetapi ada juga yang mengagumiku. Aku tak tahan dengan pekerjaan ini, rasanya ingin menangis setiap hari tapi pekerjaan menuntutku untuk tetap tersenyum genit kepada semua orang. Sampai aku bertemu dengan kau, kaulah yang terus menghiasi hari-hariku.

Aku melihat sorot kasih sayang dari matamu, kau selalu membisikkan kata-kata manis di telingaku dan terus memberiku semangat. Tidak ada tersirat kau ingin mencelakaiku. Untuk pertama kali aku masih merasa takut ketika kau menjamahku, aku takut kau akan meninggalkanku setelah itu. Tapi kau berbeda dari yang lain, kau tetap setia padaku. Kau selalu datang tiap hari lebih awal dari yang lainnya hanya untuk memandangi diriku dengan sorot matamu itu, kau selalu menjadi orang yang paling akhir yang menemaniku dengan sentuhan lembutmu itu. Aku pasrah terhadap dirimu, aku tulus mencintaimu.

Pagi itu seperti biasanya dia mengucapkan:

“Cantik sekali kau hari ini” Dibisikkannya di relung telingaku. Sambil membelai lembut rambutku.

Jari itu… jari itu terasa lembut sekali di kulitku, aku tak kuasa. Sehelai demi helai mulai dilepaskannya pakaian yang menutupi tubuhku, hingga tak ada sehelai benangpun yang menutup tubuhku. Dia menelanjangiku. Dan aku menerima ini menjadi sebuah penghormatan, karena aku percaya padanya, hanya padanya aku percaya.

Sudah tak terhitung lagi berapa kali dia menelanjangiku dan tak tentu pula kapan dia akan menelanjangiku. Bisa sebulan sekali, dua minggu sekali, atau bahkan seminggu tiga kali. Aku menerimanya dengan tulus hati, tak ada rasa kecewa terhadap perbuatannya. Aku tulus mencintainya…

Aku tak tau siapa diriku. “Sora” Begitulah dia selalu memanggilku.

“Sora yang cantik, Sora yang manis, Soraku sayang” Melayang diriku ketika dia mengucapkan kata-kata itu. Seumur hidupku tak pernah ada yang menyayangiku seperti itu bahkan orangtuaku sendiri karena aku tak pernah bertemu dan mengetahui siapa orangtuaku.

Entah ribuan atau berjuta-juta kali kata pujian diucapkannya kepadaku dan aku tidak pernah bosan mendengarnya. Karena dialah yang membuatku bertahan hidup dalam kungkungan ini, hidup dalam pandangan mata ribuan lelaki yang selalu menelanjangiku.

“Boby” Begitulah orang-orang memanggilnya. Aku tak pernah tau namanya karena mulutku selalu tak bisa berucap ketika di depannya bahkan untuk menanyakan namanya. Dia adalah pegawai biasa, itu yang kulihat dari bagaimana orang memandang dan memperlakukannya. Seringkali orang lain yang berpakaian lebih rapi dan berdasi membentaknya dihadapanku dan dia hanya diam membisu atau mengiyakan saja walaupun ku tahu bahwa itu menyakitkan hatinya. Dia selalu melakukan perintah atasannya tanpa pernah mengeluh seperti dia memperlakukanku selama ini. Yang kuhapal pada dirinya adalah ketika dia melakukan pekerjaannya, dia selalu bersiul mendendangkan sebuah lagu. Ya, lagu itu adalah sebuah lagu yang pada masanya cukup terkenal,

Wanita dijajah pria sejak dulu

Dijadikan perhiasan sangkar madu

Tapi ada kala pria tak berdaya

Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Tak bosannya dia mendendangkan lagu itu sambil bersiul dan tak bosannya aku mendengarnya. Tebakanku, lagu itu adalah sebuah hiburan dari rasa kesal terhadap atasannya atau lagu itu menyatakan sesuatu yang penting bagi dirinya. Bagiku, lagu itu adalah sebuah dendangan cinta darinya kepadaku yang nadanya dapat membuai dan memberikan rasa nyaman pada diriku. Semakin sering dia mendendangkan lagu itu, semakin jatuh cinta aku padanya.

*****

M

alam itu, seperti biasa saat keramaian mulai sirna dan orang akan terlelap kembali ke peraduannya, Boby akan setia datang menemaniku dengan dendang lagu cintanya. Tidak ada perasaan senyaman dan seindah ini setelah seharian dipandangi dan dijamah oleh tangan dan mata puluhan orang. Boby lah yang melarutkan rasa lelah ini, pandangannya memberikan keteduhan yang mendalam dan sentuhannya menghapus rasa jijik terhadap diriku dari pandangan dan sentuhan puluhan orang.

“Selamat malam Sora yang cantik, pandanglah langit malam ini. Bulan dan bintang akan menemani kita semalaman. Semoga engkau tak bosan dengan diriku, hanya engkaulah yang membuatku bertahan di tempat ini”. Ucap Boby kepadaku.

Ternyata kami mempunyai perasaan yang sama. Seperti biasanya, aku hanya terdiam dan tersipu mendengar sanjungannya.

Boby mulai melepas pakaianku satu per satu, tangan lembutnya membasuh seluruh tubuhku. Ingin rasanya merebahkan tubuh ini di pelukannya. Siulannya membuaiku untuk menikmati malam yang indah ini. Sampai tak ada sehelai benangpun menutupi tubuhku, hanya ada aku dan Boby yang disirami cahaya bulan dan bintang dari balik kaca.

Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara dering telepon dari saku Boby.

“Sebentar Sora sayang, nanti kita lanjutkan lagi. Aku harus mengangkat telepon ini, mungkin ini sesuatu yang penting untukku”. Kata Boby.

Ada perasaan kecewa ketika Boby lebih mementingkan dering telepon daripada diriku atau perasaan cemburu?

Mengapa aku cemburu pada Boby, toh aku bukan siapa-siapanya. Mungkin aku hanya wanita simpanannya atau Boby hanyalah seperti laki-laki lain yang senang menjamahku. Ah… Boby tidak seperti itu, Boby yang kukenal adalah seorang pria yang lembut dan bertanggung jawab dan perasaanku mengatakan bahwa dia mencintaiku seperti diriku mencintainya. Pikiranku berkecamuk terus bertanya-tanya siapakah yang menelepon dan mengganggu malam indah kami.

“Halo… Iya betul saya sendiri, ada yang bisa dibantu. Apa !!! Dimana dia sekarang? Bagaimana kondisinya?” Boby terdiam lama dalam teleponnya.

“Baik, saya akan segera kesana” Kata Boby menutup diamnya.

Segera setelah memutus telepon, Boby mengambil jaket dan tasnya. Sepertinya dia akan meninggalkanku malam ini. Aku hanya terdiam memandanginya. Dengan tergopoh-gopoh dia mendatangiku dan berkata “Sora cantik, ayahku kecelakaan dan aku harus menengoknya di rumah sakit sekarang juga. Maafkan aku meninggalkanmu malam ini, hanya ayahkulah keluargaku satu-satunya di dunia ini. Selamat malam Sora, esok aku menemuimu lagi”

Aku terdiam. Ada perasaan nyaman setelah tau kepergiannya bukan karena perempuan lain tapi ada juga perasaan sedih memahami perasaan hati Boby saat ini. Pasti benar-benar panik, tapi kenapa aku tak diajaknya sekalian? Aku juga ingin berkenalan dengan ayahnya, aku juga ingin menjenguknya, aku juga ingin mengetahui tentang kehidupan Boby lebih jauh. Setelah sekian lama berdua, kenapa Boby tidak ingin hubungan ini semakin serius. Aku juga mendabakan sebuah keluarga bersamanya. Mungkin belum waktunya atau aku terlalu pasif terhadapnya. Aku selalu tidak bisa berkata-kata ketika ada di dekatnya. Aku terlalu mencintainya.

*****

A

ku terbangun ketika ada suara keras di sampingku. Ruangan ini belum waktunya untuk ramai orang berdatangan tapi sepagi ini sudah terjadi keributan. Aku melihat dan mendengar orang berdasi itu memarahi Boby.

“Saya terpaksa pulang cepat tadi malam pak, karena keadaan mendesak. Ayah saya kecelakaan dan berada di rumah sakit” Kata Boby.

“Saya tidak menerima alasan yang mengada-ada seperti itu, yang bisa saya simpulkan dari kejadian tadi malam adalah tindakan indisipliner dari karyawan saya. Dan itu jelas harus ada sangsinya. Kamu tau Bob, sangsinya apa untuk perbuatan bodohmu itu?” Kata orang berdasi itu dengan berkacak pinggang.

“Saya tidak tau Pak, saya minta maaf Pak” Kata Boby dengan wajah menunduk sambil berkaca-kaca.

“Sekarang juga kau kemasi barang-barangmu di loker dan temui bagian personalia untuk mengambil sisa gajimu bulan ini” Kata orang berdasi itu dengan suara melengking.

“Apa artinya ini Pak, apakah saya di skors?” Kata Boby sambil menatap orang berdasi itu.

“Apa artinya skors untuk orang yang tidak disiplin sepertimu, itu akan memberikanmu kesempatan lain lagi untuk melakukan tindakan indisipliner di lain waktu. Aku tidak bisa mentolerir perbuatanmu tadi malam, ruangan kau tinggal berantakan dan kau meninggalkan benda ini dalam keaadaan telanjang. Aku tidak mau melihatmu lagi di ruangan ini. Kamu kupecat Bob!” Kata orang berdasi itu dengan tegas.

“Maafkan saya Pak, berikan saya kesempatan satu kali lagi Pak. Saya sangat mencintai pekerjaan saya. Saya akan memperbaiki kesalahan dan tidak akan mengulanginya lagi” Kata Boby sambil sesenggukkan meneteskan air mata.

Sambil berlalu, orang berdasi itu mengucapkan “Sudah cukup Bob, ketika saya kembali ke ruangan ini, saya tidak ingin melihatmu lagi. Selamat tinggal Bob”

Boby terdiam lama terpaku dalam gemetarannya sambil sesenggukan menangis. Sambil berdiri, diletakkan lengannya di matanya untuk mengusap airmata dan menghindari tatapan pegawai lain di sekitarnya. Dia berbalik memandangku dengan mata merahnya, dipegangnya tanganku.

“Sora cantik, maafkan aku. Aku harus meninggalkanmu. Kamu harus bisa menerima orang lain yang akan menggantikanku” Ujarnya sambil menahan isak tangis.

Ingin sekali aku memeluknya, tapi aku tak mampu. Ingin sekali aku mengucapkan kata-kata perpisahan padanya tapi bibir ini tak mampu berkata-kata. Aku terlalu sedih. Bahkan meneteskan air matapun aku tak mampu.

Tangannya melepaskan genggamanku, Boby berbalik dan berjalan menunduk menyusuri lorong. Tak ada pegawai lain yang berani menegurnya. Orang berdasi itu tersenyum kecil memandang di balik jendela ruangannya.

*****

S

udah 3 hari semenjak kepergian Boby. Aku merasa kesepian. Tidak ada lagi siulan pada malam hari. Tidak ada lagi sanjungan dan belaian lembut tangannya. Aku merasa menjadi hina sekali saat puluhan orang yang setiap harinya menjamah dan memandangiku, aku tak punya tujuan hidup lagi, aku tak kuat menjalani hidup ini tanpa Boby.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh hadirnya seorang laki-laki di hadapanku. Sambil merokok dipandanginya tubuhku. Dia tertawa terbahak-bahak sambil berucap, “Inikah Sora yang dipuja-puja oleh Boby?” Ditiupkan asap rokok di wajahku. Ingin rasanya kutampar mukanya.

Tiba-tiba tangannya meremasku dan menidurkanku, dia melepas pakaianku dengan kasar. Aku mencoba berontak tapi dia terus membuka pakaianku sampai tak ada sehelai benangpun di tubuhku.

“Maafkan aku Boby. Tubuhku boleh dijamah oleh siapapun tetapi cintaku hanya untukmu selamanya”

Setelah selesai perbuatannya kepadaku, diberdirikannya aku dan dia meninggalkanku begitu saja dengan tertawa keras. Sekali lagi ditiupkannya asap rokok di wajahku. Aku merasa sangat hina, aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak tahan diperlakukan seperti ini. Boby… dimana kau berada.

Dalam kesedihanku, tiba-tiba aku terjatuh dan kepalaku terantuk kaca yang menutupi ruangan ini. Kaca itu pecah terburai dan aku terjatuh di jalanan. Di luar hujan sangat deras, tubuhku basah kuyup. Sekelompok pemuda jalanan menghampiriku dan membawaku pergi. Aku terlalu lelah dalam kesedihanku, aku mengikuti kemana mereka pergi. Dibawanya aku ke sebuah lorong gelap yang sangat lembab. Di dalam ruangan gelap yang terdengar cicitan tikus menggema mereka beramai-ramai menelanjangiku. Boby… Maafkan aku, aku mencintaimu.

*****

S

epuluh tahun kemudian di sebuah jalan kawasan pertokoan yang ramai, sebuah keluarga berhenti untuk memandangi etalase sebuah toko pakaian.

“Nana sayang, dulu ayah pernah bekerja di toko pakaian ini” Kata seorang laki-laki kepada anak perempuannya yang berumur sekitar 7 tahunan.

“Di toko inilah ayah bertemu dengan ibumu dan maka itulah dirimu hadir di dunia ini sebagai bukti cinta ayah dan ibu” Kata laki-laki itu lagi kepada anaknya.

“Emang dulu ibu juga bekerja di toko ini ya, kok ibu bisa ketemu sama ayah?” Tanya Nana kepada ibunya.

“Ayahmulah yang bekerja di sini, ibu adalah pengunjung setia toko ini. Waktu itu ayahmu bertugas sebagai petugas kebersihan dan yang membuat ibu jatuh cinta pada ayahmu adalah ibu melihat ketulusan hati ayahmu ketika bekerja. Ibu melihat ketika ayahmu membersihkan dan mendandani sebuah boneka manekin di etalase toko seperti yang kamu pandangi ini. Kepada sebuah boneka saja ayahmu merawatnya dengan sangat perhatian apalagi dengan perempuan sungguhan. Lalu ibu berusaha untuk mencari tahu dan mendekati ayahmu. Hingga akhirnya kami menikah dan lahirlah dirimu nak…” Kata perempuan itu kepada anaknya.

Perempuan itu melihat wajah suaminya berubah menjadi bersedih. “Sudahlah Bob, lupakan saja rasa sakit hatimu terhadap pimpinan toko ini. Toh itu sudah 10 tahun lewat. Ayo kita teruskan belanja lagi Bob”

Boby menggendong anaknya sambil menggandeng istrinya untuk meneruskan jalannya.

Tiba-tiba Boby berhenti di tengah jalan. “Ada apalagi Bob?” Kata istrinya.

“Sekarang aku ingat, nama boneka manekin itu adalah Sora. Nana, nanti kau namai boneka barumu itu dengan nama Sora ya. Karena nama itu cukup akrab di telinga papa dan papa rasa Sora adalah boneka yang mempunyai hati” Kata Boby kepada anaknya.

Sambil berdendang, Boby meneruskan perjalanan bersama istri dan anaknya tercinta.

Wanita dijajah pria sejak dulu

Dijadikan perhiasan sangkar madu

Tapi ada kala pria tak berdaya

Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Sangatta, 2 November 2007

Read Full Post »

Telinga

K

upandangi lagi cermin di kamarku. Apa yang salah dengan diriku? Aku tak seperti orang lain, anggota tubuhku tak berkembang. Harus kusyukuri atau kuratapi perbedaan ini. Kupandangi terus kepalaku di depan cermin, apa yang salah dengan diriku. Rambutku hitam ikal panjang sebahu, mataku ada dua, hidungku ada satu dengan dua buah lubang tempat aku bernafas, mulutku ada satu tapi, aku punya dua buah telinga di sisi kiri dan kanan kepalaku. Ya, telinga. Telinga yang tidak dipunyai kebanyakan orang saat ini.

Ini adalah awal tahun 2100, sebuah milenium baru bagi dunia saat ini dan bagi negaraku. Di tahun ini hanya sedikit orang yang bertelinga apalagi di negaraku. Karena aku bertelinga maka aku harus tinggal di sebuah daerah terisolir yang kumuh. Bagi orang-orang tak bertelinga daerah kami sering disebut kandang. Ungkapan yang tepat kiranya karena aku tak merasa tinggal di sebuah rumah tapi lebih tepat tinggal di sebuah kandang. Kandangku berukuran 5×5 m dan itu ditempati oleh 3 orang. Ayahku, ibuku dan aku sendiri, dan kami semua bertelinga. Sebelumnya ada kakekku yang tinggal bersama dan beliau baru saja meninggal 2 bulan yang lalu. Aku masih ingat pesan beliau sebelum beliau meninggal.

“Bas, kakek sudah tua dan kakek menyesal tidak akan melihat kamu menjadi orang, ya… orang tak bertelinga. Hanya kamu harapan satu-satunya keluarga ini. Kamu pasti sudah tahu bahwa dalam sejarah keluarga kita tidak pernah ada anggota keluarga kita yang menjadi orang tak bertelinga. Jadilah orang bertelinga Bas, banggakan orang tuamu dan banggakan pusara kakekmu kelak” Setelah itu kakekku meninggal. Kakekku meninggal akibat penyakit telinga yang mewabah di kampungku. Ada cairan yang keluar dari telinganya dan itu membuat tubuh dari penderita menjadi lemas dan mati dengan perlahan.

Aku juga masih ingat kata-kata orangtuaku yang selalu diucapkannya ketika aku kecil. Pada waktu itu aku mencuri makanan dari temanku yang tak bertelinga.

“Baskoro! Janganlah kau berbuat nakal nak. Kami sudah bersusah payah menyekolahkanmu di tempat anak-anak tak bertelinga dengan harapan agar kau bisa menjadi seperti mereka. Kau tau nak, ketika kau lahir kami sangat sedih ketika mengetahui ternyata kau bertelinga”

Ingin menjerit rasanya ketika mendengar hal itu apalagi keluar dari mulut orangtuaku sendiri. Aku hanya sangat lapar waktu itu dan anak-anak tak bertelinga selalu membawa bekal yang berlebih. Sisanya pun selalu diberikan kepada anjing penjaga sekolah. Iri rasanya dengan anjing tersebut. Lebih beruntung dilahirkan menjadi seekor anjing daripada menjadi anak bertelinga.

Aku masih memandangi cermin di kamarku yang sempit. Di samping cermin kulihat foto-foto keluargaku. Ada foto orangtuaku, kakekku dan nenekku, kakek buyutku dan nenek buyutku dan semuanya bertelinga. Kembali kupandang cermin, ingin rasanya kupecah cermin tersebut. Aku sudah berumur 23 tahun dan aku masih bertelinga, sampai kapan aku akan terus bertelinga. Aku tak berdaya.

*****

A

ku bekerja di sebuah pabrik tekstil. Pabrik itu begitu besar yang menempati daerah dengan luas berhektar-hektar di pinggir sebuah jalan besar. Ruangannya ber AC dan berlantai keramik dan orang-orang yang bekerja di sana selalu berpakaian rapi dengan kemeja berdasi dilapisi jas, becelana kain dan bersepatu kulit mengkilap. Tapi itu hanya untuk orang-orang normal tak bertelinga. Sedangkan untuk orang-orang tak normal bertelinga seperti aku ini menempati ruang bawah tanah dari pabrik tersebut yang berhawa pengap dengan lantai teraso yang sudah pecah-pecah dengan pekerjaan yang berpeluh-peluh keringat. Aku tidak sendiri, banyak pula temanku yang bertelinga merasakan frustasi seperti yang kurasakan saat ini. Parman bahkan memotong kedua telinganya, tetapi tetap saja nampak dua lobang di sisi kiri dan kanan kepalanya.

Pak Karto adalah pemilik dari pabrik ini. Aku sering melihatnya berangkat ke kantor dan pulang dari kantor. 2 orang bodiguard selalu mendapinginya kemanapun dia berjalan. Tiap orang tak bertelinga selalu ketakutan terhadap orang yang bertelinga. Ketakutan tak beralasan kubilang, karena kami hanyalah kaum minoritas di negeri ini. Banyak yang sudah dibantai atau dibiarkan mati berlahan dengan penyakit telinga seperti yang diderita kakekku dan tetangga-tetanggaku yang lain dan terus terang aku juga ketakutan tertular penyakit tersebut. Penyakit ini tak bisa menular pada orang tak bertelinga. Banyak yang bilang bahwa penyakit ini sengaja dibuat oleh orang tak bertelinga untuk mengurangi orang bertelinga. Kembali ke Pak Karto, aku sudah mengawasinya sejak lama. Dia mempunyai seorang anak laki-laki tak bertelinga yang kira-kira berumur 5 tahun dan Pak Karto sangat sayang pada anak satu-satunya itu. Segala permintaaan anaknya selalu dipenuhinya.

Hari ini adalah jadwalku untuk pulang terakhir karena aku harus membersihkan ruangan tempatku bekerja. Banyak sekali bekas-bekas kain perca yang harus kubersihkan sore ini karena kami harus memenuhi pesanan ekspor yang harus selesai di akhir minggu ini. Terdengar deru mobil di luar pabrik, bergegas aku menuju pintu yang menghubungkan ruangan pengab ini dengan dunia luar. Kubuka sedikit pintu tersebut untuk mengintip ada apa di luar sana. Aku melihat rombongan para pembesar pabrik bergegas untuk pulang juga. Terlihat dalam rombongan itu Pak Karto yang selalu didampingi oleh 2 orang bodyguardnya. Aku tidak melihat anaknya, padahal ini adalah hari Rabu dan biasanya hari ini anaknya ikut pulang bersama dengan bapaknya karena siang hari Pak Karto selalu menjemput anaknya untuk dibawa ke kantor. Kelepaskan pandangan ke arah jalan raya, terlihat anak Pak Karto sedang bermain mobil-mobilan di pinggir jalan. Dan seketika itu mobilnya menggelinding di tengah jalan dan anak tersebut berusaha mengambilnya, dari arah depannya melintas sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Tanpa buang-buang waktu lagi aku langsung berlari menuju ke arah anak Pak Karto untuk menyelamatkannya. Aku melompat sambil berusaha meraih anak tersebut. Dalam detik tersebut aku mendengar berbagai suara. Yang pertama adalah suara tangisan anak Pak Karto, yang kedua adalah suara teriakan orang-orang tak bertelinga di depan Pabrik, yang ketiga adalah suara klakson dari truk yang melintas. Yang kusadari kemudian adalah aku sudah berada di pinggir jalan sambil memeluk anak Pak Karto yang terus menangis sambil meronta.

Pak Karto langsung datang tergopoh-gopoh diiringi dua orang bodyguardnya menemuiku, diambilnya anaknya dari pelukanku. Kemudian dia memandangku sejenak kemudian dia menampar kedua orang bodyguardnya dan memarahinya sambil membentak-bentak. Tak ada yang terucap sedikitpun dari mulut Pak Karto padaku, bahkan ucapan terimakasih. Aku menyingkir berlahan dan kuputuskan untuk kembali meneruskan pekerjaanku agar besok tak kena marah mandor. Setengah jalan menuju tempat kerjaku, aku dikejutkan oleh suara.

“Tunggu disitu pemuda” Kutengok kebelakang, ternyata yang memanggilku adalah Pak Karto, aku tidak menyangka sekali Pak Karto berbicara kepadaku. Aku berbalik dan kutundukkan kepalaku. Aku melihat sudah ada sepasang sepatu di depanku.

“Maafkan saya atas kelancangan saya menyentuh anak bapak”

“Sudah, jangan kau teruskan lagi bicara. Aku tak mau terlihat orang banyak kalau aku berbicara dengan orang bertelinga. Temui aku besok di ruanganku pukul 10 pagi tepat”

“Baik Pak”

“Teruskan pekerjaanmu anak muda”

Sesampainya di kandang aku masih berdebar-debar dan penasaran, apa yang akan terjadi besok. Apakah aku akan kenah marah gara-gara kejadian tadi. Tapi mengapa aku harus dimarahi, bukannya aku sudah menyelamatkan nyawa anak kesayangannya. Malam ini aku tak bisa tidur, selain karena pikiranku yang kalut juga karena suara batuk dari ibuku. Kemarin sudah ada cairan keluar dari telinga ibuku, sepertinya ibuku tertular oleh almarhum kakekku dan aku hanya tinggal tunggu giliran saja.

Pukul setengah 7 tepat aku sudah berada di pabrik dan pagi ini terasa panjang untuk menunggu sampai pukul 10. Pekerjaanku tak ada yang beres dan aku kena marah mandor beberapa kali karena menjatuhkan gulungan benang di lantai yang masih kotor karena kemarin aku menyapunya tidak bersih. Pukul 10 kurang 10 menit aku minta ijin ke mandor untuk menemui Pak Karto. Awalnya mandor tidak percaya sampai aku dijemput sendiri oleh seorang bodyguard Pak Karto. Di sepanjang jalan menuju ruangan Pak Karto, orang-orang kantor terlihat berbisik-bisik di kepala mereka yang tak bertelinga sambil menatapku.

Ruangan itu sangat sejuk dan wangi, Pak Karto sendiri sudah duduk menanti di lobi ruangannya.

“Silakan duduk” Katanya.

Belum pernah aku duduk di kursi yang seempuk ini. Aku mencoba duduk dengan tenang.

“Siapa namamu pemuda” Tanyak Pak Karto.

“Baskoro Pak” Jawabku

“Kau tau Baskoro, Jimmy adalah anakku satu-satunya. Aku tak tau bagaimana perasaanku apabila aku kehilangannya. Untuk itu aku sangat berterima kasih padamu atas kejadian kemarin”

“Sudah kewajiban saya sebagai pegawai pabrik ini untuk ikut menjaga anak Bapak” Jawabku.

“Baskoro, di depanmu sudah ada amplop yang berisi uang. Ini adalah bentuk terimakasih saya terhadapmu. Ambillah Baskoro. Kemudian saya sudah memutuskan untuk mengangkatmu menjadi pengawas lapangan dalam pabrik ini”

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku terus tertunduk sambil menahan air mata.

“Kau tau Baskoro, mungkin hanya aku satu-satunya orang normal tak bertelinga yang memberikan posisi kepada orang tak normal bertelinga di negeri ini. Ini semata karena rasa sayangku terhadap anakku. Bukan karena rasa iba terhadapmu. Kau bisa mulai kerja besok”

“Terimakasih Pak” Kataku sambil terisak.

*****

S

udah setengah tahun sejak aku mulai menduduki jabatan baruku sebagai pengawas lapangan. Hanya dari setengah tahun ini aku sudah bisa membeli sebuah rumah kecil tidak jauh dari pabrik dan bukan lagi sebuah kandang, ini karena kebaikan dari Pak Karto. Kuucapkan selamat tinggal pada kandang dan lingkungan kumuhku. Aku tak mau tertular pada penyakit telinga yang makin mewabah di kampungku. Orangtuaku, entah bagaimana nasib mereka mungkin mereka sudah mati terkena penyakit haram itu. Aku tak tahan dengan cacian dan makian mereka ketika aku melarat, kemudian mereka mendayu sendu sayang ketika aku kaya.

Kali ini aku benar-benar harus membuktikan pada Pak Karto bahwa aku pengawas lapangan yang baik ketika pabrik didera demonstrasi besar-besaran oleh pegawai bertelinga yang menuntut kenaikan upah. Bahkan akupun kena demo juga oleh mereka. Kulihat Parman mengacung-acungkan kertas bertuliskan Ganyang Penghianat Baskoro, Kardi ikut-ikutan meneriakkan Gantung Baskoro Bersama Pembesar Pabrik dan beberapa bekas temanku bertelinga yang lain. Pak Karto sudah menyerahkan mandat kepadaku untuk menyelesaikan masalah ini dan iming-iming kenaikan gaji dan jabatan ada di depanku. Aku sudah menyiasati hal ini dengan bekerja sama dengan preman setempat. Di tengah gemuruh demonstrasi besar-besaran di depan pabrik aku menyelinap keluar menuju kampung kumuh sial tempatku dulu terhina bersama para preman bayaran. Kuperintahkan preman-preman itu untuk membakar kandang-kandang semi permanen mereka. Hanya sekejap kampung itu sudah luluh lantak di makan api dan hanya tinggal mengatakan bahwa terjadi konslet pada salah satu rumah sudah cukup bagi polisi yang kubayar untuk bisa menutup kasus.

Para demonstran terpecah karena mereka berusaha menyelamatkan rumahnya yang terbakar, massa tidak lagi berkumpul di depan pabrik tetapi sekarang mereka panik berusaha mengais-ais sisa-sisa barang yang tidak termakan api. Mereka berbalik arah menganggapku dewa ketika aku menyantuni mereka yang menjadi korban kebakaran. Hanya sedikit yang dikeluarkan daripada harus menaikkan gaji dan tunjangan mereka. Pak Karto ikut hadir pura-pura bersedih di atas gelimpangan mayat yang terbakar oleh api, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak, perempuan dan orang tua yang ditinggal suaminya untuk berdemo. Yang masih hidup menyalahkan para lelaki dewasa karena berdemo pada orang yang baik hati seperti Pak Karto dan tentu Baskoro sang pengawas lapangan baik hati yang sebentar lagi naik pangkat sebagai staf pribadi Pak Karto. Di tengah tumpukan mayat aku melihat dua sosok hitam legam akibat terbakar, tapi aku masih mengenalinya. Ya, mereka adalah orangtuaku. Aku terpaku terdiam dan kali ini air mataku bukan air mata bohongan tetapi air mata sungguhan. Sungguh terlupakan olehku bahwa aku masih mempunyai orang tua di kampung ini.

Pabrik sekarang sudah berjalan lagi dengan lancar dan para pekerja tidak ada lagi yang protes mengenai kenaikan gaji karena mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Sore itu sepulang kerja aku menaiki mobilku dan kembali ke rumah baru pemberian Pak Karto atas jasaku menyelamatkan pabrik. Kupandangi cermin di kamarku dan aku kini menemukan manusia sempurna. Dua buah telingaku benar-benar menghilang dari kepalaku tanpa harus kupotong. Evolusi Darwin benar-benar terlaksana. Apabila ada organ tubuh yang tidak pernah dipakai maka organ tersebut akan mengecil dan semakin lama semakin menghilang.

Yogyakarta, 15 Juli 2005

Read Full Post »

Older Posts »