Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2008

Parlan

Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?

Gemuruhkah masih sekembar masa lalu

Ilalang yang kau tebas masih membekas paras

Tak lekang oleh tarikan waktu

Sobatmu kan cerita di sini

Apa yang mengaliriku sebatas hening bunga malam tak bertuan

Kiranya dikau bisa mengertiku

Disini, sepatuku masih tercampakkan oleh lumpur

Parlan, apa pula yang dicari manusia

Bangkai kawannya kukira

Begitu pula disini, saat materi menjadi Tuhan bagi segalanya

Tangan ini sudah berselaput darah

Parlan, sepi yang jahat selalu menggelayutiku

Walaupun diantara sejuta bidadari

Kasihnya tak selegit rekah bibirnya

Hanya lenguhan lirih yang tersisa dalam dadaku

Di dalamnya hampa tak ada cinta

Parlan, sudahkah kau menemukan takjuban alam yang menjadi takdirmu

Disini aku masih mengukir legenda pribadiku

Dimana halaman pertamanya terdapat coretan buah tanganmu

Mungkin kau tak merasakannya

Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?

Sobatmu kan menunggu ceritamu.

Sungkai, Maret 2006

Advertisements

Read Full Post »

Mereka Telah Pergi

Satu persatu roh ku meninggalkanku

Apakah ini yang dinamakan kesepian?

Aku baru merasakannya, saat darahku seakan terhenti

Di tengah suasana yang semuanya berwarna putih

Putih yang begitu menyilaukan

Kutelungkupkan wajahku di antara dua lutut dan kusilangkan tanganku kepadanya

Satu persatu mereka meninggalkanku

Tak ada lagi yang akan menamparku

Tak ada lagi yang kuajak mabuk hingga muntahku membajiri kota ini

Tak ada lagi keringat bercampur debu yang membaui hidung kota ini

Tak ada lagi si bajingan, si asu, si keparat, si babi, siapa?

Aku tahu saat ini memang akan datang

Dimana aku akan berjemur sendiri di terik matahari

Berlari sendiri dengan senyum yang kupaksakan

Apakah memang sudah saatnya

Atau memang aku yang belum siap

Kuludahi semua muka mereka yang meninggalkanku

Karena tak boleh ada yang meninggalkanku

Atas keegoisanku ini

Kupersembahkan tangisan pilu ditengah deru dunia yang makin cepat

Aku tak mau sendirian…

Aku menangis memohon…

Yogyakarta, Awal Januari 2006

Read Full Post »

Saat Aku Mencintaimu

Saat aku mencintaimu, daun-daun akan berguguran dan menutupi seluruh jalan di kota ini karena ikut merayakan haru sendu syahdu hatiku padamu. Akan membuat petugas kebersihan yang digaji kecil tetapi tugasnya amatlah berat menggerutu sepanjang hari karena daun itu tak akan habis-habisnya berguguran.

Saat aku mencintaimu maka aku akan melupakan apapun bahkan untuk berlari ketika rumahku terbakar dan apinya sudah mencapai kamarku. Aku hanya melihat dan menikmati kobaran itu mulai membakar tumpukan kertas-kertas bekas kesalahan mengetik skripsiku yang sudah menggunung dan tidak kubuang. Dan ketika api menjalar di tubuhku mulai dari jari sampai mengeritingkan bulu dadaku tak kurasa karena aku lupa akan rasa sakit.

Saat aku mencintaimu maka negara ini akan menjadi negara termiskin di dunia karena aku tak benar-benar hidup di kota ini tapi hidup dalam imaji cintaku dan aku tak mau membayar pajak sehingga pemerintah akan berkurang pemasukannya sebesar tiga-ratus-ribu-rupiah dalam sebulan dan akan terjadi inflasi besar-besaran, rupiah melemah, tidak akan ada investasi, rakyat kehilangan pekerjaan, kelaparan dan kemiskinan merajalela di mana-mana.

Saat aku mencintaimu maka cintailah aku karena kalau kau tidak mencintaiku maka aku akan bunuh diri dengan menyayat nadiku dan kubiarkan darah itu mengalir kemana-mana. Menetes dari meja belajarku, melewati bawah pintu kamarku, menuruni tangga menuju ke ruang tamu kemudian berbelok karena disana ibuku sedang duduk di lantai beralaskan permadani sambil menghitung laba hari ini. Aliran darah terus mengalir sampai ke jalan melewati hiruk pikuk orang dan lalu lalang kendaraan, berhenti sejenak kala lampu merah di persimpangan jalan, membagi dua ke kiri dan ke kanan. Yang ke kiri terus menuju ke halaman rumah tua melewati roda mobil jeep yang selalu parkir di depan rumah, masuk melalui pintu utama berbelok mengindari permadani kemudian berhenti tepat di depanmu yang sedang menonton infotainment sore itu. Saat itu kau coba membersihkan darah itu dengan menghabiskan bergulung-gulung tisu sampai kau sadar bahwa kau sudah tenggelam dalam lautan darah dan seluruh kota ini sudah dibanjiri darah bak banjir bandang kala Nabi Nuh.

Yogyakarta, Seperempat Desember 2005

Read Full Post »

Kata Mamaku

Mamaku pernah berkata padaku

bahwa aku akan menjadi seorang pengelana di dunia ini

Di tubuhku akan tergores puluhan belati

atas orang-orang yang pernah kukalahkan karena menghalangi langkahku

Mamaku selalu tersenyum kala dia meraba pipiku

dan menemukan bulu-bulu tipis yang tumbuh di sana

Kemudian menutup kegelisahannya dengan mencium keningku

dan membiarkanku terlelap tidur dalam pangkuannya

Mamaku berkata bahwa aku mempunyai ekor

dan ekor itu selalu dililitkan di dinding depan kasurnya

Saat dia terkenang padaku,

dipandanginya ekor itu sebelum ia tidur

Mamaku selalu berkata

bahwa ketika aku pulang nanti,

Aku akan membawa sejuta karang, sejuta pohon kelapa, sejuta air laut

dan kami akan bermain sepuasnya di pantai kami.

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Aku Pulang

Saat mentari terbit esok hari

Aku akan berjalan menuju senja

bahkan ketika orang tuaku berteriak di belakang

memanggil-manggil namaku

Saat itu aku hanya berjalan lurus ke depan

dan hanya membawa sebuah tas kecil yang terpagut di pinggang

Di dalamnya ada secarik kertas yang bertuliskan

Aku Pulang…

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Hanya Saat Itu Saja

Saat ingat bunga rampai cerah wajahmu

Sambutku di depan pintu

Aku remas buah tangan untukmu

Senja merah tampak pada wajahku

Hanya kutatap kakimu

Takjub…

Tak seperti yang kukira

Ada yang berbeda dengan dirimu

Entah kenapa ada pita yang mengikat nadiku

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Kau tetap kau, entah beda…

Aku tak tau…

Aku terus mendayung

Di derasnya sungai percakapan

Perahuku kadang oleng

Karena aku mendayung dengan mata terpejam

Apakah perahuku menabrak perahumu?

Aku bukan aku, aku menjadi beda…

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Sungai itu mengalir tidak jelas

Alirannya kadang-kadang berbalik

Aneh tapi nyata…

Perahu kita tetap tenang menuju satu tujuan

Saling mengangkat sampai melayang

Bulu-bulu itu kita pasang

Sampai kita sama-sama terbang

Aku terbang lebih tinggi

Semakin tinggi semakin rontok pula buluku

Sengaja tak kau ikat dengan benar

Aku senyum sambil melihat kau dari jauh

Tak jelas senyummu

Kaki ini terus melangkah

Terasa lama tak jumpa sungaimu lagi

Gelisah…

Kau bunuh aku pelan-pelan…

Sidoarum, 8 Nov 05

Read Full Post »

Tuk Kekasihku

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Bara yang menyala dalam dadaku

Memaksaku untuk berpaling

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Cinta itu kadang buram

Terselimuti kabut lenggokan tarian

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Kadang rindu tak datang

Batinku tak selaras dengan tubuhku

Mataku selalu ditutupi tabir

Tabir yang kadang kunikmati

Apakah Kau cinta padaku?

Maafkan aku sebelum saatku nanti

Solo, Malam Takbiran 2 Nov 05

Read Full Post »

Older Posts »