Feeds:
Posts
Comments

Archive for April 28th, 2008

Saat Aku Mencintaimu

Saat aku mencintaimu, daun-daun akan berguguran dan menutupi seluruh jalan di kota ini karena ikut merayakan haru sendu syahdu hatiku padamu. Akan membuat petugas kebersihan yang digaji kecil tetapi tugasnya amatlah berat menggerutu sepanjang hari karena daun itu tak akan habis-habisnya berguguran.

Saat aku mencintaimu maka aku akan melupakan apapun bahkan untuk berlari ketika rumahku terbakar dan apinya sudah mencapai kamarku. Aku hanya melihat dan menikmati kobaran itu mulai membakar tumpukan kertas-kertas bekas kesalahan mengetik skripsiku yang sudah menggunung dan tidak kubuang. Dan ketika api menjalar di tubuhku mulai dari jari sampai mengeritingkan bulu dadaku tak kurasa karena aku lupa akan rasa sakit.

Saat aku mencintaimu maka negara ini akan menjadi negara termiskin di dunia karena aku tak benar-benar hidup di kota ini tapi hidup dalam imaji cintaku dan aku tak mau membayar pajak sehingga pemerintah akan berkurang pemasukannya sebesar tiga-ratus-ribu-rupiah dalam sebulan dan akan terjadi inflasi besar-besaran, rupiah melemah, tidak akan ada investasi, rakyat kehilangan pekerjaan, kelaparan dan kemiskinan merajalela di mana-mana.

Saat aku mencintaimu maka cintailah aku karena kalau kau tidak mencintaiku maka aku akan bunuh diri dengan menyayat nadiku dan kubiarkan darah itu mengalir kemana-mana. Menetes dari meja belajarku, melewati bawah pintu kamarku, menuruni tangga menuju ke ruang tamu kemudian berbelok karena disana ibuku sedang duduk di lantai beralaskan permadani sambil menghitung laba hari ini. Aliran darah terus mengalir sampai ke jalan melewati hiruk pikuk orang dan lalu lalang kendaraan, berhenti sejenak kala lampu merah di persimpangan jalan, membagi dua ke kiri dan ke kanan. Yang ke kiri terus menuju ke halaman rumah tua melewati roda mobil jeep yang selalu parkir di depan rumah, masuk melalui pintu utama berbelok mengindari permadani kemudian berhenti tepat di depanmu yang sedang menonton infotainment sore itu. Saat itu kau coba membersihkan darah itu dengan menghabiskan bergulung-gulung tisu sampai kau sadar bahwa kau sudah tenggelam dalam lautan darah dan seluruh kota ini sudah dibanjiri darah bak banjir bandang kala Nabi Nuh.

Yogyakarta, Seperempat Desember 2005

Advertisements

Read Full Post »

Kata Mamaku

Mamaku pernah berkata padaku

bahwa aku akan menjadi seorang pengelana di dunia ini

Di tubuhku akan tergores puluhan belati

atas orang-orang yang pernah kukalahkan karena menghalangi langkahku

Mamaku selalu tersenyum kala dia meraba pipiku

dan menemukan bulu-bulu tipis yang tumbuh di sana

Kemudian menutup kegelisahannya dengan mencium keningku

dan membiarkanku terlelap tidur dalam pangkuannya

Mamaku berkata bahwa aku mempunyai ekor

dan ekor itu selalu dililitkan di dinding depan kasurnya

Saat dia terkenang padaku,

dipandanginya ekor itu sebelum ia tidur

Mamaku selalu berkata

bahwa ketika aku pulang nanti,

Aku akan membawa sejuta karang, sejuta pohon kelapa, sejuta air laut

dan kami akan bermain sepuasnya di pantai kami.

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Aku Pulang

Saat mentari terbit esok hari

Aku akan berjalan menuju senja

bahkan ketika orang tuaku berteriak di belakang

memanggil-manggil namaku

Saat itu aku hanya berjalan lurus ke depan

dan hanya membawa sebuah tas kecil yang terpagut di pinggang

Di dalamnya ada secarik kertas yang bertuliskan

Aku Pulang…

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Hanya Saat Itu Saja

Saat ingat bunga rampai cerah wajahmu

Sambutku di depan pintu

Aku remas buah tangan untukmu

Senja merah tampak pada wajahku

Hanya kutatap kakimu

Takjub…

Tak seperti yang kukira

Ada yang berbeda dengan dirimu

Entah kenapa ada pita yang mengikat nadiku

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Kau tetap kau, entah beda…

Aku tak tau…

Aku terus mendayung

Di derasnya sungai percakapan

Perahuku kadang oleng

Karena aku mendayung dengan mata terpejam

Apakah perahuku menabrak perahumu?

Aku bukan aku, aku menjadi beda…

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Sungai itu mengalir tidak jelas

Alirannya kadang-kadang berbalik

Aneh tapi nyata…

Perahu kita tetap tenang menuju satu tujuan

Saling mengangkat sampai melayang

Bulu-bulu itu kita pasang

Sampai kita sama-sama terbang

Aku terbang lebih tinggi

Semakin tinggi semakin rontok pula buluku

Sengaja tak kau ikat dengan benar

Aku senyum sambil melihat kau dari jauh

Tak jelas senyummu

Kaki ini terus melangkah

Terasa lama tak jumpa sungaimu lagi

Gelisah…

Kau bunuh aku pelan-pelan…

Sidoarum, 8 Nov 05

Read Full Post »

Tuk Kekasihku

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Bara yang menyala dalam dadaku

Memaksaku untuk berpaling

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Cinta itu kadang buram

Terselimuti kabut lenggokan tarian

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Kadang rindu tak datang

Batinku tak selaras dengan tubuhku

Mataku selalu ditutupi tabir

Tabir yang kadang kunikmati

Apakah Kau cinta padaku?

Maafkan aku sebelum saatku nanti

Solo, Malam Takbiran 2 Nov 05

Read Full Post »

Kunamai Dirimu Saja

Kunamai dirimu Saja

karena aku takmau mengulang-ulang namamu saja

Kunamai dirimu Saja

karena aku takmau ketika menulis aku teringat wajahmu saja

Kunamai dirimu Saja

karena namamu jadi lebih mudah diucapkan dengan 4 huruf saja

Kunamai dirimu Saja

karena aku mau kau hanya mencintaiku saja

00:20, Sidoarum, 24 April 2005

Read Full Post »