Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2009

Menggelinding

Entah mengapa aku begitu menyenangi kata itu (menggelinding). Kutemukan pertama kali saat dosen Seismologiku Ir. Djoko Wintolo, DEA memberikan wejangan tentang hidup. Beliau bercerita tentang jalan hidupnya yang tak pernah ia rencanakan atau sangkakan sehingga menjadi seperti ini. Beliau mengibaratkan bahwa hidupnya seperti banyu mili. Air (banyu) itu akan mengalir mengikuti kemanapun aliran sungai membawanya, mengikuti lekuk lembah, menjadi satu dengan aliran sungai lain, mengendap ke dasar tanah atau mengalir pelan sambil berkelok dengan tujuan yang tak lain adalah di sebuah muara lautan. Atau menggelinding, magma yang membeku akan membentuk batuan, saat batuan terlapukkan maka akan menjadi butiran yang besar kemudian menjadi batuan lain atau tertransport oleh air atau angin dengan menggelinding menjadi butiran yang lebih kecil sampai akhirnya menjadi lempung yang mengendap di dasar laut. Seperti pula buku Menggelinding 1 karya Pramoedya Ananta Toer yang berisi kumpulan tulisannya berupa esai, sajak, atau tulisan lainnya dari tahun 1947 – 1956 sehingga nampak kilas balik proses kepengarangan Pram. Hidup itu adalah proses yang cukup rumit yang harus dilewati walaupun tujuannya tetap sama yaitu sampai ke muara kehidupan yang tak lain adalah kematian. Kembali lagi, hidup itu tak lain hanyalah mengenai sebuah proses sobat …

Advertisements

Read Full Post »

Kenangan

Kenangan, hanya muncul saat kita merasa mengingat kejadian di masa lampau. Semakin lama kejadian yang kita kenang maka kenangannya akan semakin menderu. Atau bisa saja dipicu dengan pertemuan dengan sebuah benda atau seseorang yang tidak kita rencanakan yang mempunyai kaitan dengan kejadian di masa lampau.

Kejadian di masa lampau pun tidak seluruhnya akan bisa kita kenang. Kejadian yang akan kita kenang biasanya adalah kejadian yang tidak biasa kita temui selama hidup kita. Bisa merupakan kejadian yang menyenangkan, menyedihkan, menyakitkan, memuakkan, dan apapun itu. Dari semua kejadian tersebut biasanya hanya terpilah menjadi dua kenangan, yaitu kenangan baik dan kenangan buruk.

Menjadi sebuah konsekuensi logis apabila kita menerima sebuah kenangan karena manusia yang sehat justru yang mempunyai kenangan pada otaknya. Tidak akan menjadi masalah apabila kita menerima kenangan yang baik tetapi juga tidak bisa dihindari seburuk apapun kenangan yang kita terima.

Manusia yang sehat akan menerima kenangan. Kenangan yang baik akan menambah sehat rohani kita, kenangan yang buruk bisa membuat seseorang merasa frustasi karena tidak bisa menghapusnya. Memiliki kenangan bisa membikin kita tidak sehat. Apakah saat sakit jiwa kita bisa punya kenangan kala kita sehat?

Read Full Post »