Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Puisi’ Category

Bermain Api

Sebuah pelajaran berharga bagi para pecinta

Tak pantas baginya untuk menyandang cinta sejati

Dikutuk ke dalam api kenistaan egoisme sepi

Yang dianggapnya paling benar

Tapi hanya semu semata

Bermain api memang kadang menyenangkan

Kepakan kupu-kupu disini mungkin menjadi badai di tempat lain

Hanya penyesalan yang akan menjadi cerita penutup

Tak cukup dengan kata maaf

Yang mungkin cuma sekedar ucapan di bibir saja

Baginya tak ada yang lebih menarik daripada rasa penasaran

Akan dahaga sebuah perasaan baru

Yang tak ditemui di dunia yang ditatapnya

Baginya kurang, baginya hambar, baginya lapar

Ada lagu baru katanya

Ada wangi baru katanya

Ada rasa baru katanya

Ada kisah baru katanya

Bersembunyi dibalik keberadaban

Yang masih bertahan tapi entah kapan akan dijadikan alkitab

Bagi orang-orang sepertinya

Bagi orang-orang yang hidup dalam dunia yang semakin murtad

Sungkai, 2 jan 06

Advertisements

Read Full Post »

Parlan

Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?

Gemuruhkah masih sekembar masa lalu

Ilalang yang kau tebas masih membekas paras

Tak lekang oleh tarikan waktu

Sobatmu kan cerita di sini

Apa yang mengaliriku sebatas hening bunga malam tak bertuan

Kiranya dikau bisa mengertiku

Disini, sepatuku masih tercampakkan oleh lumpur

Parlan, apa pula yang dicari manusia

Bangkai kawannya kukira

Begitu pula disini, saat materi menjadi Tuhan bagi segalanya

Tangan ini sudah berselaput darah

Parlan, sepi yang jahat selalu menggelayutiku

Walaupun diantara sejuta bidadari

Kasihnya tak selegit rekah bibirnya

Hanya lenguhan lirih yang tersisa dalam dadaku

Di dalamnya hampa tak ada cinta

Parlan, sudahkah kau menemukan takjuban alam yang menjadi takdirmu

Disini aku masih mengukir legenda pribadiku

Dimana halaman pertamanya terdapat coretan buah tanganmu

Mungkin kau tak merasakannya

Parlan, ada apa dikandung hatimu sekarang?

Sobatmu kan menunggu ceritamu.

Sungkai, Maret 2006

Read Full Post »

Mereka Telah Pergi

Satu persatu roh ku meninggalkanku

Apakah ini yang dinamakan kesepian?

Aku baru merasakannya, saat darahku seakan terhenti

Di tengah suasana yang semuanya berwarna putih

Putih yang begitu menyilaukan

Kutelungkupkan wajahku di antara dua lutut dan kusilangkan tanganku kepadanya

Satu persatu mereka meninggalkanku

Tak ada lagi yang akan menamparku

Tak ada lagi yang kuajak mabuk hingga muntahku membajiri kota ini

Tak ada lagi keringat bercampur debu yang membaui hidung kota ini

Tak ada lagi si bajingan, si asu, si keparat, si babi, siapa?

Aku tahu saat ini memang akan datang

Dimana aku akan berjemur sendiri di terik matahari

Berlari sendiri dengan senyum yang kupaksakan

Apakah memang sudah saatnya

Atau memang aku yang belum siap

Kuludahi semua muka mereka yang meninggalkanku

Karena tak boleh ada yang meninggalkanku

Atas keegoisanku ini

Kupersembahkan tangisan pilu ditengah deru dunia yang makin cepat

Aku tak mau sendirian…

Aku menangis memohon…

Yogyakarta, Awal Januari 2006

Read Full Post »

Kata Mamaku

Mamaku pernah berkata padaku

bahwa aku akan menjadi seorang pengelana di dunia ini

Di tubuhku akan tergores puluhan belati

atas orang-orang yang pernah kukalahkan karena menghalangi langkahku

Mamaku selalu tersenyum kala dia meraba pipiku

dan menemukan bulu-bulu tipis yang tumbuh di sana

Kemudian menutup kegelisahannya dengan mencium keningku

dan membiarkanku terlelap tidur dalam pangkuannya

Mamaku berkata bahwa aku mempunyai ekor

dan ekor itu selalu dililitkan di dinding depan kasurnya

Saat dia terkenang padaku,

dipandanginya ekor itu sebelum ia tidur

Mamaku selalu berkata

bahwa ketika aku pulang nanti,

Aku akan membawa sejuta karang, sejuta pohon kelapa, sejuta air laut

dan kami akan bermain sepuasnya di pantai kami.

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Aku Pulang

Saat mentari terbit esok hari

Aku akan berjalan menuju senja

bahkan ketika orang tuaku berteriak di belakang

memanggil-manggil namaku

Saat itu aku hanya berjalan lurus ke depan

dan hanya membawa sebuah tas kecil yang terpagut di pinggang

Di dalamnya ada secarik kertas yang bertuliskan

Aku Pulang…

Yogyakarta, 24 Nov 05

Read Full Post »

Hanya Saat Itu Saja

Saat ingat bunga rampai cerah wajahmu

Sambutku di depan pintu

Aku remas buah tangan untukmu

Senja merah tampak pada wajahku

Hanya kutatap kakimu

Takjub…

Tak seperti yang kukira

Ada yang berbeda dengan dirimu

Entah kenapa ada pita yang mengikat nadiku

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Kau tetap kau, entah beda…

Aku tak tau…

Aku terus mendayung

Di derasnya sungai percakapan

Perahuku kadang oleng

Karena aku mendayung dengan mata terpejam

Apakah perahuku menabrak perahumu?

Aku bukan aku, aku menjadi beda…

Aku dewasa menjadi kanak-kanak

Sungai itu mengalir tidak jelas

Alirannya kadang-kadang berbalik

Aneh tapi nyata…

Perahu kita tetap tenang menuju satu tujuan

Saling mengangkat sampai melayang

Bulu-bulu itu kita pasang

Sampai kita sama-sama terbang

Aku terbang lebih tinggi

Semakin tinggi semakin rontok pula buluku

Sengaja tak kau ikat dengan benar

Aku senyum sambil melihat kau dari jauh

Tak jelas senyummu

Kaki ini terus melangkah

Terasa lama tak jumpa sungaimu lagi

Gelisah…

Kau bunuh aku pelan-pelan…

Sidoarum, 8 Nov 05

Read Full Post »

Tuk Kekasihku

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Bara yang menyala dalam dadaku

Memaksaku untuk berpaling

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Cinta itu kadang buram

Terselimuti kabut lenggokan tarian

Perjumpaan itu selalu singkat

Oh… Kekasihku…

Kadang rindu tak datang

Batinku tak selaras dengan tubuhku

Mataku selalu ditutupi tabir

Tabir yang kadang kunikmati

Apakah Kau cinta padaku?

Maafkan aku sebelum saatku nanti

Solo, Malam Takbiran 2 Nov 05

Read Full Post »

Older Posts »