Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘hidup’

Realis atau Idealis ?

Kalau kita hanya realis belaka dan hanya berpijak pada pragmatika data faktuil, yang terjadi maka kita pasti akan ikut tenggelam dalam rawa-rawa korup tanpa tepi, serba “explitation de l’homme”. Tetapi jika kita lari dari realita dan menjadi idealis murni, kita akan menguap, kabur, hilang.

Orang pasti bilang, kita harus kompromi. Tetapi, kompromi tanpa karakter serba oportunistis (apalagi ikut menang saja) justru akan membuat kita menjadi bola yang ditendang kian kemari sampai saatnya kita bocor tak tertolong, dibuang di lubang sampah. Apa ikut sajalah menjadi realis menjala di air keruh mumpung serba realis? Atau melawan arus bengawan menjadi paria dengan istri sakit dan anak-anak kacau?

17 Maret 2007

Advertisements

Read Full Post »

Keadilan

Apa itu yang dimaksud teknologi informasi, apa itu yang dimaksud dengan jaman globalisasi.

Yang ada hanyalah ucapan gombal belaka dari pemimpinku yang ku tau hanya dari orang luar yang bertandang ke desaku.

Tubuhku teramat lelah untuk menerima segala macam ucapan-ucapan yang membingungkan, atau aku teramat malu jika nanti ku ditanya kembali oleh anakku akan ucapan asing yang kuucapkan barusan dan aku tidak bisa menjawab.

Yang aku mau hanyalah keadilan. Aku tak tau jalannya menuju kesana, jikalau dengan berjalanpun akan kutempuh. Kata Si Amat tetangga sebelah; keadilan hanya bisa dicapai dengan parang.

Gembiranya hatiku, karena untuk mencapai keadilan tidaklah sukar. Kuasah parangku tajam-tajam tiap hari, sampai rambutkupun terbelah jika terjatuh di atasnya.

Berbondong-bondong kami bersuka cita untuk menyambut datangnya keadilan, parang kami acung-acungkan ke atas. Begitu semangatnya aku, tersandungpun tak terasa sakit kakiku. Kulihat wajah teman-temanku begitu semangat dan berseri-seri. “Keadilan hai keadilan aku datang menyambutmu”

Gelombang massa menjadi semakin besar dan aku sangat bangga bisa bergabung di dalamnya. Belum pernah aku segembira ini, biarlah ladang kutinggal sehari toh aku akan akan merasakan keadilan walau sekejap. Laila dan Parti, anak dan istriku sudah kusuruh untuk menyiapkan makanan terbaik menyambut ayah dan suaminya sore ini. Karena akan kuceritakan padanya bagaimana rasa keadilan sambil makan malam.

Aku ikut teriak ketika semuanya teriak memanggil keadilan. Aku ikut melompat ketika semuanya melompat meraih keadilan. Aku ikut lari ketika semuanya lari mengejar keadilan.

Kenapa semuanya berbalik arah, kenapa keadilan yang sudah dikejar tak segera ditangkap. Kali ini aku tak mau melewatkan kesempatan ini. Aku terus maju walaupun massa mundur semua.

Tiba-tiba dadaku panas, teramat panas… Apakah ini tanda-tanda datangnya keadilan? Kalau memang benar, aku akan menahannya dan terus maju. Untuk yang kedua kalinya, kali ini dada kananku panas dan teramat panas. Kutahan sekuatku demi keadilan. Aku sudah melihatnya… warnanya putih cerah menyilaukan… Kujatuhkan parangku dan kugapai dengan tanganku, menyentuhnya rasanya hangat… Aku sangat puas mendapatkannya. Laila, Parti mungkin aku tak pulang malam ini dan malam-malam selanjutnya.

20 Juni 2006

Read Full Post »