Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘juang’

Juang

M

alam itu aku sangat gelisah. Dada ini sangat berdesir, nafasku serasa mau putus. Berbagai posisi duduk sudah kucoba, berbagai nyanyian sudah kudendangakan, koran hari ini sudah selesai kubaca semuanya bahkan sekarang rasanya ingin kusobek-sobek. Entah sudah berapa batang rokok yang kuhisap malam itu, tapi tak ada sebatangpun yang kurasa dapat mengurangi gelisahku. Tapi gelisah ini kunikmati, gelisah yang baru pertama kali terjadi selama hidupku. Sebentar lagi aku akan menjadi lelaki sejati kala istriku berhasil melahirkan seorang bayi buah dari rasa cinta kedua orangtuanya.

Teriakan istriku seakan-akan semakin menyiksaku. Apa yang kuperbuat di sini sementara istriku berjuang mati-matian di sana. Aku hanya bisa menanamkan benih kepadanya. Tapi itukan dilakukan suka sama suka, pembelaanku pada hati kecilku. Aku dikejutkan oleh suara teriakan istriku yang semakin memuncak dan disusul oleh suara teriakan mungil yang memecah keheningan malam. Apakah ini puncaknya? Apakah aku akan menjadi seorang ayah? Bagaimana keadaan bayiku? Bagaimana keadaan istri tercintaku? Degup jantungku makin keras, seandainya tanganku bisa bicara maka dia akan protes karena selalu kuremas-remas.

Aku menunggu di depan ruang persalinan. Lama sekali dokter itu keluar, ingin rasanya kudobrak ruang itu. Tiba-tiba pintu terbuka. Dan seorang dokter keluar masih lengkap dengan pakaian operasinya berbicara dengan tenang sambil mengusap keringat di keningnya.

“Selamat pak, anak bapak laki-laki dan istri bapak merupakan wanita yang hebat. Keduanya dalam kondisi sehat”

“Terimakasih Dok” Kataku. Ingin rasanya berteriak sekerasnya di koridor rumah sakit ini, tapi tak kulakukan pasti banyak yang akan terganggu. Kupeluk erat dokter itu. Kupandangi mukanya dan mukanya memerah entah karena ikut bahagia atau tak bisa bernafas karena pelukanku terlalu erat. Langsung cepat-cepat kuterobos masuk ke dalam ruang persalinan itu.

Kutemui pandangan yang sangat menyentuh kalbuku. Di kasur itu kulihat wajah istriku yang sangat kelelahan tapi matanya berbinar bahagia sambil mencium seorang bayi mungil warna merah. Ya, itu adalah istriku dan yang digendongnya adalah anakku. Aku tak kuasa menahan air mata haruku. Kudekati mereka dengan pelan karena tak ingin mengusik kebahagiaan ini. Kucium kening istriku lalu kucium kening anakku pula.

Warnanya merah dan matanya masih terpejam mulutnya mengecap-ecap seakan-akan ingin berucap terimakasih bapak-ibu telah merawatku selama dalam perut ibuku.

“Anak kita mas” Kata istriku pelan sambil menitikkan air mata.

“Ya, anak kita. Lihatlah dik, hidungnya mirip dengan hidungmu yang juga mungil. Bibirnya mirip dengan bibirku yang akan selalu mengucapkan syukur pada Tuhan. Dan rambutnya dik, mirip rambutmu yang hitam dan tebal”.

Kami saling berpandangan dan tertawa bahagia.

*****

Setelah kedua cintaku tertidur kelelahan, malam itu juga aku pulang kerumah untuk mengabari tetangga dan sanak saudaraku di rumah. Pasti mereka tak sabar juga menunggu berita bahagia ini. Kupacu sepeda motor tuaku sambil menikmati indahnya malam. Bulan dan bintang kilaunya bertambah terang ikut menyambut kehadiran anakku mengiringi perjalananku. Pohon-pohon, tiang listrik, pagar-pagar rumah yang kulewati dan deru motorku ikut berdendang layaknya sebuah orkestra mengiringi nyanyianku.

Sengaja aku datang ke kotamu

Namun kita, tidak bertemu

Ingin diriku mengulang kembali

Berjalan-jalan bagai tahun lalu. …

*****

K

ami hidup di sebuah rumah sederhana. Tapi rumah itu sangat indah, keindahannya muncul karena kami hidup bahagia dan penuh cinta. Hanya ada dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi itu sudah cukup bagi kami untuk merenda kehidupan ini. Di tembok ruang tamu terpampang fotoku sedang mengenakan seragam kebanggaanku sebagai seorang tentara di republik ini. Di sampingnya ada foto keluarga diriku bersama istriku Mirna dan anakku Juang. Juang, begitulah kuberinama anakku. Cukup Juang tak kurang tak lebih karena kuharap dia akan menyusul ayahnya untuk selalu berjuang demi republik ini.

Desa permai tempatku hidup hanyalah desa kecil dalam sebuah republik yang besar. Dan republik ini saat ini sedang berkecamuk dengan negara tetangga. Kami saling mengklaim daerah kekuasaan kami. Dan republik ini baru akan sadar setelah merasa kehilangan suatu pulau karena sebelumnya para pejabatnya terlena oleh nikmatnya korupsi yang mereka lakukan dan tidak pernah memperhatikan pulau-pulau naungannya. Itu yang kutahu dari tetangga-tetanggaku sepulang dari merantau untuk menempuh ilmu di kota lain. Mereka adalah mahasiswa yang selalu kritis menyikapi gejolak republik ini dan aku hanyalah seorang tentara yang selalu patuh pada komando atasanku. Sudah menjadi kode etis bagi satuanku untuk tidak menyinggung perbuatan para atasanku walaupun aku tahu bahwa apa yang mereka kerjakan menyimpang dari aturan. Ini sudah menjadi budaya dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku cukup bahagia bersama Mirna dan bahkan sekarang ada Juang yang membuatku semakin tambah cinta kepada keluargaku.

*****

Dalam rapat siang tadi di kantor, semakin jelas bahwa hubungan antar republik kami dan negara tetangga semakin runyam. Bukan tidak mungkin akan terjadi perang. Pikiranku hanya kepada Mirna dan Juang di rumah, tak sabar untuk kembali ke rumah menikmati makan siang bersama Mirna dan Juang yang saat ini sudah bisa merangkak dan memanggil ibunya “Uu” dan bapaknya “Aa”.

Sepulang kantor sengaja kulewati alun-alun kota untuk membelikan Juang sebuah mainan. Beberapa mainan bagus tak terjangkau oleh dompetku yang makin cekak, maklumlah ini tanggal tua. Tapi ada satu yang membuatku tertarik adalah sebuah boneka kayu seorang tentara yang sedang hormat lengkap dengan pakaian khas tentaranya. Setelah harganya pas maka segera kubayar. Maafkan bapak Juang karena tak bisa membelikanmu mobil-mobilan dan hanya sebuah boneka kayu ini. Kuharap boneka ini dapat mewakili cinta bapak kepadamu.

“Tidak usah dibungkus pak. Cukup kumasukkan ke dalam saku celanaku saja”

Tak sabar rasanya pulang ke rumah dan melihat wajah istriku dan anakku berseri-seri menanti suami dan bapaknya. Apalagi wajah Juang yang senang karena bapaknya membawa sebuah mainan untuknya.

*****

Setibanya di rumah kudapati ada sebuah sepeda motor yang cukup kukenal parkir di depan pagarku. Ya, mereka adalah teman baikku di satuan. Pak Herman dan Pak Darno.

“Selamat siang Pak” Tak lupa salam hormat tentaraku pada kedua temanku ini dan mereka juga membalas dengan salam hormat.

“Silahkan duduk Pak. Ada apa gerangan bapak sudi berkunjung di rumah sederhana ini?” Kataku. Sesaat kulemparkan pandangan kepada istriku yang menunjukkan raut muka muram sambil menggendong Juang yang tertidur.

“Begini Pak Karim, kita sudah mengetahui perkembangan hubungan republik kita dengan negara tetangga yang semakin runyam seperti pada rapat siang tadi. Dan hal yang dikhawatirkan benar-benar terjadi bahwa republik kita menyatakan perang dengan negara tetangga. Selepas Pak Karim meninggalkan kantor siang tadi, ada komando dari pusat bagi seluruh satuan untuk bersiap maju ke medan perang termasuk Pak Karim yang merupakan anggota terbaik dalam satuan kita”

Aku terdiam sejenak. Sebenarnya aku sudah meramalkan hal ini jauh-jauh hari dan kini aku sudah mengerti mengapa raut wajah istriku muram. Mungkin sebelum aku tiba mereka sudah memulai pembicaraan.

“Siap Pak. Kira-kira kapan saya harus berangkat?”

“Saat ini juga, diharapkan pasukan sudah siap pukul tiga sore untuk mengikuti briefing dan menyiapkan senjata selanjutnya diberangkatkan bersama-sama menggunakan pesawat hercules langsung ke medan pertempuran. Jadi dimohon Bapak untuk menyiapkan sesingkat mungkin peralatan yang dibawa dari rumah kemudian kita berangkat bersama-sama”

Dadaku terhentak. Aku gelisah, tapi gelisah ini berbeda dengan yang kurasakan saat kelahiran Juang. Aku melirik pada Mirna dan Juang. Tak lain gelisahku adalah mereka berdua yang akan kutinggal di medan perang entah berapa lamanya. Kutarik nafas panjang.

“Saya akan bersiap sesingkat mungkin”

Aku menuju ke kamarku untuk menyiapkan peralatanku dan Mirna mengikutiku dari belakang untuk membantuku menyiapkan peralatan setelah menidurkan Juang di kasur. Kami tak saling bicara, hanya suara sesenggukan Mirna yang kudengar. Sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang tentara dalam republik ini untuk dipanggil sewaktu-waktu maju di medan perang dan seharusnya Mirna tahu itu ketika dia memutuskan untuk menjadi istriku.

Aku sudah siap berangkat dan aku masih menggunakan pakaian yang sama ketika aku tiba. Kupandangi istriku, tampak matanya berkaca-kaca melepas kepergianku. Kupeluk dan kucium keningnya kemudian kubisikkan di telinganya.

“Aku tak akan lama. Jaga Juang, ceritakan padanya bahwa ayahnya adalah seorang pria pemberani”

Lalu kucium pipi anakku yang terlelap tidur di gendongan ibunya. Wajahnya masih lugu, giginya baru mulai tumbuh. Tampak benda kecil putih mungil muncul dari gusinya ketika dia menguap. Dan mata itu, mata itu seperti bapaknya, hidungnya makin mirip ibunya, rambutnya pun makin hitam dan tebal seperti ibunya. Aku tak ingin membangunkannya, kubisikkan di telinganya.

“Juang, Bapakkmu mohon pamit dulu untuk berjuang seperti nama yang kuberikan kepadamu”

Diciumnya telapak tanganku oleh istriku dan aku segera berangkat. Kutengok lagi wajah istriku dan dia masih menangis begitu pula Juang yang terbangun kemudian ikut menangis. Ditepuk-tepuk pantat montok Juang untuk meredakan tangisnya oleh istriku. Dan deru motorku semakin menjauh. …

*****

E

ntah sudah berapa lama aku berada di medang perang dan kini aku sudah berada di depan rumah. Rumah itu masih seperti saat kutinggalkan. Pagarnya dari bambu yang kubuat sendiri, tidak rapi tapi aku mengerjakan dengan susah payah. Bunga-bunga di halaman mulai bermekaran, kupetik satu dan wanginya seperti wangi istriku. Sepertinya istriku terus merawatnya ketika kutinggal perang. Terdengar suara pekik-pekik gurauan seorang wanita dengan seorang anak kecil. Rasa kangenku sudah begitu mendalam. Kurapikan bajuku dan baret di kepalaku lalu mulai kuketuk pintu rumah tercinta itu.

“Siapa ya?” Terdengar suara perempuan dari dalam. Suara itu tak berubah, masih tetap terngiang dalam pikiranku. Tak salah lagi itu adalah istri tercintaku.

“Juang main sendiri dulu ya, ibu akan membuka pintu sebentar”

Aku menunggu dengan sikap tegak layaknya seorang tentara yang baru pulang dari medan perang, memang aku pulang dari medan perang. Tertawa sendiri aku. Cepat-cepat kutahan tertawaku ketika pintu mulai dibuka.

“Mas Karim!” Mirna berteriak sambil memelukku. Tak ada yang lebih indah selain pelukan istriku sendiri yang dengan sabar menanti suaminya berperang. Aku balas memeluknya dan kuciumi dia di seluruh wajahnya sampai tak tersisa sedikitpun.

Mirna masih belum berubah sedikitpun sejak kutinggalkan. Istriku masih tetap perempuan yang paling cantik yang pernah kutemui. Rambut hitam tebalnya masih tetap dibiarkan terurai, mata indah itu tak berkurang sedikitpun, dan hidung mungilnya mengingatkanku pada Juang.

“Dimana Juang?” Kataku bersemangat.

“Ada di kamar mas. Dia terus mencari bapaknya dan sekarang dia sudah bisa mengucapkan Bapak dengan jelas”

Kurangkul tubuh istriku dan kami bersama-sama menuju kamar untuk melihat buah hati kami Juang. Ya… dia adalah anakku tercinta. Sekarang dia sudah bisa berjalan sendiri dan sudah tampak raut wajah yang merupakan campuran bapak dan ibunya.

“Anakku, bapakmu sudah pulang nak”

Juang nampak sedikit takut dan malu-malu ketika bertemu denganku, dia meringku di kaki Mirna. Sedikit demi sedikit dia menampakkan wajahnya dan senyum tipis tersungging dari bibirnya.

“Bapak” Katanya. Aku tak kuasa menahan haru. Air mata menetes dari mataku lalu kugendong dan kuciumi dia. Dia kegelian sambil tertawa-tawa kecil.

“Juang, bapak lupa memberikanmu hadiah ketika bapak akan berangkat ke medan perang. Hadiah ini sudah bapak simpan sejak lama dan bapak jaga terus jangan sampai rusak bahkan di medan perang sekalipun”

Kukeluarkan sebuah boneka kayu seorang tentara yang sedang hormat dari saku celanaku dan nampak wajah Juang begitu berseri-seri melihatnya.

*****

“Matanya mulai kosong dan darahnya mengalir lagi dengan deras di perutnya!”

“Cepat, suntikkan morfin!”

“Tangannya menghalangiku untuk menyuntiknya!”

“Keluarkan tangannya dari sakunya!”

“Apa itu, mengapa dia menggenggam sebuah boneka kayu?”

“Kopral Karim, Kopral Karim, Kopral Karim, …”

Suara peluru sahut menyahut berdesing di sekitarku. Suara teriakan orang-orang dan laju tank-tank memekakkan telinga. Mengapa lama-lama begitu tenang. Lamat-lamat kudengar lagu:

Sepanjang jalan kenangan

Kita selalu bergandeng tangan

Sepanjang jalan kenangan

Kau peluk diriku mesra. …

Yogyakarta, 8 Juni 2005

Catatan

Teks lagu diambil dari lagu berjudul Sepanjang Jalan Kenangan yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi

Advertisements

Read Full Post »