Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘mata sendu’

Mata Sendu

Selasa

dal, ud berak brp x km d atas salju? Aq lulus dapet nilai A. Giliranmu kawan 🙂

Rabu (Hari ke 1)

take care 🙂

Kamis (Hari ke 2)

hoi kadal kemana aja km? banyak yg nyari tuh. sombong amat! sekret rame nih banyak cewe siap dibikin pingsan 🙂

Kamis (Hari ke 3)

dal, aq tau km lg pengen sendirian di sana, tp aq lagi butuh km nih…

Jum’at (Hari ke 4)

dal… kamu dimana?… 😦

Sabtu (Hari ke 5)

dal… selamat, akhirnya cita-citamu tercapai 🙂

*****

“Oi Kadal! Kamu udah packing belum? Temen-temen udah pada ngumpulin carrier di sekret[1] tuh”.

“Diem lu Kalong! Aku ngantuk banget nih, habis minum obat. Kampret juga tu dokter, ngasih obat bikin ngantuk”.

“Sakit apa kamu, kayaknya parah banget? Panggilin ambulan nggak? Atau WHO biar dateng ngobatin”.

“Matamu! Badanku panas nih, kemaren sore pulang dari sekret abis rapat kehujanan. Udah ah aku mau tidur. Nanti sore aku packing langsung ke sekret. Bilang ke anak-anak aku dateng agak telat, tiketnya ga akan terbuang percuma”.

“Ya udah, istirahat aja… Kalo sakit jangan dipaksa ikut. Aku ke sekret dulu ya… Dah Kadal”… BRUK!! Sambil melempar bantal ke muka Kadal

“Dasar Kalong Bangsat!!!”

*****

K

ami adalah komunitas mapala[2] yang biasanya tiap anggota mempunyai julukan tertentu yang menggambarkan sifat atau tingkah laku tiap anggotanya. Julukan ini muncul setelah masing-masing anggota mempunyai kedekatan dan pengalaman hidup bersama di alam.

Nama asliku adalah Bambang Digdoyo. Aku masih ingat ketika pertama kali aku mendapat julukan Kalong. Julukanku ini pertama kali dicetuskan oleh temanku Tridadi Susetyo karena dia melihat pola hidupku yang lain dari biasanya, yaitu aku selalu tidur di siang hari dan dimalam harilah aku mulai beraktifitas. Bahkan ketika kuliahpun aku selalu tertidur di kelas, maka untuk itulah aku mendapatkan julukan Kalong.

Sedangkan temanku sendiri Tridadi Susetyo julukannya adalah Kadal. Julukan ini tercetus tujuh tahun yang lalu ketika kami masih menjadi anggota mapala baru dan melakukan pendakian diklat lanjut pendakian gunung di Gunung Lawu. Ketika itu, temanku yang hiperaktif ini selalu berjalan di depan dan tiba-tiba dia menghilang yang membikin panik rombongan. Seketika itu tiba-tiba dia muncul dari semak-semak dan membuat kaget rombongan dengan merayap dan menjulurkan lidahnya keluar dari semak-semak. Hal itu dilakukannya berulang-ulang kali dan membuat jengkel satu rombongan pendakian. Akhirnya julukan Kadalpun disandangkan terhadap dirinya. Lucu juga ketika mengingat masa lalu.

Aku dan Kadal adalah angkatan Diklat IV yang masih tersisa, atau mungkin bisa kubilang kami tidak bisa lepas dari hati nurani kami yang haus akan petualangan dan ketegangan-ketegangan adrenalin saat kami melakukan kegiatan-kegiatan yang ekstrim. Entah berapa gunung, gua, tebing atau derasnya jeram sungai sudah kami lalui, tepatnya tak terhitung lagi dan bahkan kami sendiripun kadang lupa. Tepat kiranya aku dan dia masuk dalam organisasi mapala, karena kami juga sering disebut mapala tetapi dengan arti yang lain yaitu mahasiswa paling lama. Lamanya jam terbang untuk kegiatan alam sudah tak terhitung lagi seiiring dengan lamanya jam terbang kuliah kami. Tapi kami menikmati hal ini.

Kami bukanlah anak muda yang tidak bertanggung jawab, indek prestasi kumulatif kami tidaklah jelek-jelek amat dan kami juga membiayai kuliah dari kantong sendiri. Aku dan Kadal mempunyai usaha pembuatan dan penjualan peralatan kegiatan alam yang sudah kami tekuni empat tahun lamanya dan cukup sukses terkenal di komunitas mapala seluruh Jogja.

Muka Kadal lebih tepat digambarkan sebagai preman daripada seorang mahasiswa. Rambut gondrong acak-acakan, celana sobek, matanya menatap tajam dengan alis yang tebal, mulut yang mempunyai dua tipe aroma yaitu alkohol dan telur busuk, dengan asesoris di sekujur tubuhnya mulai dari kaki sampai dengan telinga dan sebatang rokok yang selalu menyelip di mulutnya. Hampir tidak pernah melihat dia dengan pakaian rapi. Bahkan ketika ada acara pengenalan ruang organisasi dalam rangkaian ospek jurusan seorang mahasiswi baru di kampus yang teriak histeris dan hampir pingsan ketika dia mencoba masuk ke ruang mapala dan ternyata melihat Kadal yang baru bangun dari peraduannya sambil menguap. Selama seminggu mahasiswi tersebut tidak masuk kuliah karena shok dan Kadal seperti biasa hanya cengar-cengir sambil teriak-teriak fals nyanyi lagunya iwan fals. Satu hal yang kontras dengan penampilan fisik yang lain adalah matanya, matanya adalah mata sendu yang menatap tajam yang seakan-akan menyiratkan bahwa dia selalu memikirkan sesuatu. Katanya matanya ini adalah mata ibunya.

Di luar fisiknya yang seperti itu dia adalah orang yang bertanggungjawab dan rasa humornya memecah keseraman wajahnya. Kata-kata umpatan dan selingan saru selalu terselip di setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Kadal adalah saru, saru adalah Kadal. Dua hal ini tidak bisa dilepaskan. Tapi seandainya kita sudah mengenal dekat dengannya, seakan-akan kita bertemu dengan kawan lama yang selalu kita nanti-nantikan kehadirannya.

Kadal hidup bersama dengan ayah dan kedua adiknya yang juga masih kuliah dan sma. Ibunya sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Pernah kupergoki dia sedang merenung sendirian di Pasar Bubrah[3], ternyata dia sedang memandangi foto ibunya yang telah tiada. Dia sangat sayang sekali dengan ibunya, dan pasti dia sangat kehilangan dengan kepergian ibunya walaupun tidak pernah setitikpun air mata menetes ketika ibunya tiada. Pernah dia mengatakan apa yang membuat dia senang naik gunung adalah dia selalu menemukan mata sendu ibunya ketika matahari merekah dilihat dari puncak gunung.

Banyak sekali pengalaman melakukan kegiatan alam dengan Kadal, salah satunya adalah ketika kami masuk gua vertikal Plawan di Parangendog Parangtritis. Sebelum masuk gua dia sudah mengeluh sakit perut gara-gara sebelum berangkat dia makan terlalu banyak waktu ditraktir temennya di McDonald.

“Ah perutmu memang perut ndeso, nggak bisa diajak makan makanan yang mahal sedikit. Sekali ndeso yang tetep aja ndeso, nggak usah aneh-aneh deh Dal mendingan makan pecel aja kamu” kataku.

“Dasar Kalong busuk nggak pernah liat orang seneng dikit, masalahnya aku tu nggak tau gimana cara ngeluarin sambel dari alat yang kayak keran kurus itu. Pas kutekan, eh… sambelnya keluar banyak banget. Ya udah… sayang kan kalau nggak dimakan. Mulutmu itu yang ndeso Long!” katanya.

Alhasil di dalam gua Kadal mengeluarkan hamburger, ayam dan tidak lupa sambal yang tadi dimakannya dengan wajah yang sedikit meringis. Aroma hamburger, ayam dan sambal yang sudah berubah jauh dari aslinya itu memenuhi seluruh ruangan gua yang sirkulasi udaranya tidak terlalu bagus itu. Seluruh rombongan meneruskan perjalanan sambil menutup hidung dan mengumpat kepada Kadal dan hanya Kadal seorang yang bahagia karena dia sudah mengeluarkan dengan sukses masalahnya. Sambil bersiul-siul dia meneruskan perjalanan.

Kami sudah seperti saudara. Kedekatanku dengan Kadal dikarenakan mungkin hanya akulah orang yang bisa mengimbangi emosi dan energi si Kadal yang selalu meledak-ledak. Aku tidak usah bertanya kepadanya manakala dia sedang sedih atau bahagia, begitu juga sebaliknya. Duet kami dalam bercandapun sering membuat teman-teman berpikir bahwa kami adalah anggota baru Srimulat. Kamipun mempunyai tokoh idola yang sama yaitu Norman Edwin dan Soe Hok Gie yang juga mengabdikan hidupnya pada alam, bahkan sampai akhir hayatpun mereka kembali ke alam. Bahkan untuk urusan wanitapun kadang-kadang kami mempunyai selera yang sama, dan akhirnya kami juga sama-sama menjadi korban keangkuhan hati seorang wanita. Aku dan dia mempunyai pemikiran yang sama yaitu bahwa alam merupakan guru yang terbaik dan apa yang bisa dilakukan manusia selain belajar memaknai kehidupan langsung dari alam. Dan kami akan tetap konsisten bergerak di bidang pecinta alam walaupun kami sudah lulus bahkan sampai tua nanti.

Pada suatu kesempatan, kami pernah ditanyai tentang motivasi kami untuk menyenangi kegiatan seperti mendatangai puncak gunung tinggi, turun ke lubang gua di dalam bumi, hanyut berperahu di derasnya jeram, dan keluar masuk pedalaman yang beresiko tinggi, dan kami hanya bisa saling berpandangan kemudian tertawa lepas. Si penanyapun bingung sendiri, akhirnya hanya bisa mengumpat dan menganggap kami orang gila.

*****

H

ari ini aku ujian pendadaran dan aku menunda keberangkatanku sepuluh hari yang lalu untuk menyelesaikan ekspedisi gunung di seluruh Indonesia yang hanya tinggal Puncak Carstenz di Jayawijaya. Kalo sesuai rencana enam hari lagi Kadal sudah akan sampai di Jogja dan saat itulah pasti dia akan mempersiapkan untuk menyusulku menyelesaikan tugas dan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa. Tapi saat ini pasti dia sedang menikmati dinginnya salju sambil meneguk kopi hangat nun jauh di sana menyelesaikan cita-citanya untuk mendaki semua gunung di Indonesia sebelum lulus. Nggak bisa bayangin bila nanti namanya akan menjadi Ir. Kadal.

Yang kusadari selanjutnya adalah sekret menjadi sangat ramai dengan berbagai macam elemen masyarakat mulai dari tim SAR[4], kepolisian, pihak pengurus Jurusan dan Universitas, organisasi mapala seluruh Indonesia yang memberikan dukungan materiil dan spirituil atas kejadian tersebut. Spanduk besar terbentang bertuliskan “Kadal, jangan patah semangat. Kami semua menantimu di sini

Hari ketiga sejak berita kehilangan enam orang pendaki di Gunung Jayawijaya 5 anggota tim dari mapala kami telah berhasil dievakuasi oleh tim SAR dan sekarang berada di rumah sakit. Semuanya dalam kondisi sehat, walaupun tiga orang diantaranya harus diamputasi ruas jari tangan dan jari kakinya karena mengalami frozzbite[5]. Dan anggota keenam adalah Kadal yang sampai saat ini belum diketahui nasibnya. Hari ke 10 pendakian ke Puncak Carstenz telah mencapai Puncak Ngga Pulu, tinggal selangkah lagi Puncak Carstenz akan tercapai tetapi cuaca tidak kunjung membaik. 5 orang anggota tim pendakian memutuskan untuk berhenti mendaki dan tinggal sementara di dalam tenda sampai badai salju reda, tapi hingga tiga hari badai itu tidak juga reda, bahkan semakin kencang. Aku tahu kau akan tetap mencari mata sendu ibumu.

Yang bikin aku sebel adalah ada beberapa kawan kita yang berbasa-basi yang intinya ngomongin tentang keterbatasan dana, malah ada yang tanya: “Gimana nih, Kadal tu masih ngutang duit rokok ama aku” Atau ada yang bilang “Kasihan ya sudah gagal, nasibnya nggak menentu”. Udah ngabisin berapa duit ya, pergi ke Papua. Kau tahu Dal, apa yang kulakukan sekarang ini, aku memilih tidur nyenyak karena Kau pasti tau bahwa berbingung-bingung ria kita pilih ketawa tiwi, genjrang-genjreng Iwan Fals atau membayangkan nikmatnya turun gunung sambil melamun suasana rumah yang siap menanti kita untuk tidur sepuasnya. Apapun yang terjadi, kita memang akan tidur dengan puas dan pulas entah di rumah sendiri atau di rumah abadi.

Jenazah Kadal telah ditemukan pada hari keenam proses evakuasi dengan posisi duduk dan matamu tetap terbuka memandang mata ibumu yang sendu merekah di ufuk timur.

Pernah kita sam-sama susah, terperangkap didingin malam

Terjerumus dalam lubang jalanan, digilas kaki sang waktu yang sombong

Terjerat mimpi yang indah, Lelah

Pernah kita sama2 rasakan panasnya mentari hanguskan hati

Sampai saat kita nyaris tak percaya, bahwa roda nasib memang berputar

Sahabat masih ingatkah, Kau

(Belum Ada Judul, Iwan Fals)

Kuambil telepon genggam dan kutulis sms.

Minggu (Hari ke 6)

dal, akan kucari mata sendumu di Puncak Carstenz

Yogyakarta, 2 Juni 2005

Catatan:

· Dipersembahkan untuk Alm. Affan Iryadi dan untuk orang-orang yang selama hidupnya dipersembahkan untuk alam.

· Terinspirasi oleh kisah Norman Edwin yang meninggal di Gunung Aconcagua (Argentina) yang merupakan gunung ke 4 dalam ekspedisinya mendaki puncak tujuh benua.


[1] Sekret : ruangan sekretariat (basecamp). Penyebutan yang biasa digunakan oleh para mapala.

[2] Mapala : mahasiswa pecinta alam.

[3] Dataran sebelum sampai di Puncak Gunung Merapi atau biasa disebut Puncak Garuda. Disebut Pasar Bubrah karena daerah tersebut banyak dijumpai bongkahan-bongkahan batuan hasil letusan merapi.

[4] SAR : Search And Rescue. Organisasi yang berkencimpung untuk membantu kondisi darurat di alam.

[5] Frozzbite : Penyakit akibat kedinginan yang sangat hebat sehingga tulang mengalami pembekuan, biasanya menunjukkan bagian yang mengalami frozzbite berwarna biru dan harus diamputasi.

Advertisements

Read Full Post »