Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘surat’

Surat Untuk Bapak

Bapakku yang sebatang kara. Apa kabar dengan tubuhmu? Masihkah kau paksa untuk mengolah ladang yang selalu merugi? Apa kabar dengan hatimu? Masihkah sekeras masalalu? Saat kau usir semua orang yang mengasihimu.

Aku tak mengasihimu tapi aku menyayangimu. Dan akupun tau kau merasakan juga sepertiku saat matamu memandangku pergi sampai menjadi sebuah titik di ujung panorama. Sudah cukup bagiku pandangmu temaniku pergi karena aku tau tak ada apapun yang bisa kau berikan padaku untuk bekalku. Pandangmu lebih dari cukup bagiku karena mata lebih jujur daripada kata-kata.

Sudah 10 tahun berlalu Pak, dan Kau masih belum bisa melupakan peristiwa itu. Aku tau Kau begitu mencintai ibu begitu pula dengan aku. Kau masih hidup dengan kenanganmu dan melupakan segala macam duniawi termasuk anakmu satu-satunya, buah cinta antara Kau dan Ibu. Kesepian dan keras hati Kau jadikan jalan keluar segala macam kekecewaan atas dipanggilnya Ibu ke Rahmatullah. Semua orang kampung menjadi benci terhadapmu dan enggan untuk berurusan apapun denganmu. Kau tak terima bahwa mereka bahagia dengan istri-istri mereka sedang masa-masamu sudah berakhir.

Dengan keras hatimu Kau usir semua rasa tulus simpatik mereka terhadap kita, Kau larang diriku untuk menerima belas kasihan mereka bahkan Kau larang diriku untuk bergaul dengan teman sebayaku. Kau mencari teman untuk penderitaanmu, dan anakmu satu-satunya kau jadikan tumbal. Kau tutup rapat-rapat pintu rumah bahkan sinar matahari pagipun tak Kau ijinkan masuk. Rumah yang terang Kau ubah menjadi kelam sekelam hatimu. Sehari-hari Kau hanya diam membisu, merenung dan menatap kosong. Apa yang bisa ku syukuri adalah Kau masih mau untuk bekerja menggarap ladang kecil kita sehingga walaupun sekepal nasi kita masih bisa makan. Pak, Kau tau apa yang kupikirkan. Ibu akan menangis di sana melihat keluarganya menjadi seperti ini. Cintamu terhadap ibu merusak dirimu sendiri dan orang-orang yang ada di sekitarmu, termasuk aku. Sudah 10 tahun pak…

Kau sudah tidak muda lagi. Sebelum aku pergi, aku sering memperhatikanmu yang sering terbatuk tengah malam, dan rambut putihmu yang mulai tumbuh subur. Untuk bangun dari tempat tidurpun Kau sudah mulai payah. Tangan dan kakimu sudah lemah tidak seperti dulu lagi. Sadarlah Pak, Kau sudah renta dan saat ini sebatang kara. Kala umur sudah mempengaruhi tubuhmu, maka Kau akan seperti bayi lagi dan membutuhkan seseorang disampingmu. Tapi dengan keras hati kau usir semua orang yang mengasihimu.

Aku tau Kau merasa lebih tersiksa dan kesepian, tapi apa daya Pak aku harus membuktikan kepadamu bahwa aku adalah anakmu satu-satunya yang punya cita-cita dan masadepan. Masadepanku bukanlah masadepan kesedihan dan keras hati terus menerus yang Kau pelihara. Maafkan aku Pak, aku ambil resikonya untuk menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang Kau benci di dunia ini.

Aku tak mengasihimu tapi aku menyayangimu. Saat Kau merasakan jari tanganmu tak bisa Kau gerakkan lagi, matamu mulai redup memandang foto Ibu, kakimu kesemutan saat kau jejakkan ke tanah dan nafasmu mulai saling mendahului kudoakan semoga Kau tak mati dengan sia-sia karena keras hatimu.

Bapakku, anakmu kan selalu mengingatmu disini.

11 September 2007

Advertisements

Read Full Post »