Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘telinga’

Telinga

K

upandangi lagi cermin di kamarku. Apa yang salah dengan diriku? Aku tak seperti orang lain, anggota tubuhku tak berkembang. Harus kusyukuri atau kuratapi perbedaan ini. Kupandangi terus kepalaku di depan cermin, apa yang salah dengan diriku. Rambutku hitam ikal panjang sebahu, mataku ada dua, hidungku ada satu dengan dua buah lubang tempat aku bernafas, mulutku ada satu tapi, aku punya dua buah telinga di sisi kiri dan kanan kepalaku. Ya, telinga. Telinga yang tidak dipunyai kebanyakan orang saat ini.

Ini adalah awal tahun 2100, sebuah milenium baru bagi dunia saat ini dan bagi negaraku. Di tahun ini hanya sedikit orang yang bertelinga apalagi di negaraku. Karena aku bertelinga maka aku harus tinggal di sebuah daerah terisolir yang kumuh. Bagi orang-orang tak bertelinga daerah kami sering disebut kandang. Ungkapan yang tepat kiranya karena aku tak merasa tinggal di sebuah rumah tapi lebih tepat tinggal di sebuah kandang. Kandangku berukuran 5×5 m dan itu ditempati oleh 3 orang. Ayahku, ibuku dan aku sendiri, dan kami semua bertelinga. Sebelumnya ada kakekku yang tinggal bersama dan beliau baru saja meninggal 2 bulan yang lalu. Aku masih ingat pesan beliau sebelum beliau meninggal.

“Bas, kakek sudah tua dan kakek menyesal tidak akan melihat kamu menjadi orang, ya… orang tak bertelinga. Hanya kamu harapan satu-satunya keluarga ini. Kamu pasti sudah tahu bahwa dalam sejarah keluarga kita tidak pernah ada anggota keluarga kita yang menjadi orang tak bertelinga. Jadilah orang bertelinga Bas, banggakan orang tuamu dan banggakan pusara kakekmu kelak” Setelah itu kakekku meninggal. Kakekku meninggal akibat penyakit telinga yang mewabah di kampungku. Ada cairan yang keluar dari telinganya dan itu membuat tubuh dari penderita menjadi lemas dan mati dengan perlahan.

Aku juga masih ingat kata-kata orangtuaku yang selalu diucapkannya ketika aku kecil. Pada waktu itu aku mencuri makanan dari temanku yang tak bertelinga.

“Baskoro! Janganlah kau berbuat nakal nak. Kami sudah bersusah payah menyekolahkanmu di tempat anak-anak tak bertelinga dengan harapan agar kau bisa menjadi seperti mereka. Kau tau nak, ketika kau lahir kami sangat sedih ketika mengetahui ternyata kau bertelinga”

Ingin menjerit rasanya ketika mendengar hal itu apalagi keluar dari mulut orangtuaku sendiri. Aku hanya sangat lapar waktu itu dan anak-anak tak bertelinga selalu membawa bekal yang berlebih. Sisanya pun selalu diberikan kepada anjing penjaga sekolah. Iri rasanya dengan anjing tersebut. Lebih beruntung dilahirkan menjadi seekor anjing daripada menjadi anak bertelinga.

Aku masih memandangi cermin di kamarku yang sempit. Di samping cermin kulihat foto-foto keluargaku. Ada foto orangtuaku, kakekku dan nenekku, kakek buyutku dan nenek buyutku dan semuanya bertelinga. Kembali kupandang cermin, ingin rasanya kupecah cermin tersebut. Aku sudah berumur 23 tahun dan aku masih bertelinga, sampai kapan aku akan terus bertelinga. Aku tak berdaya.

*****

A

ku bekerja di sebuah pabrik tekstil. Pabrik itu begitu besar yang menempati daerah dengan luas berhektar-hektar di pinggir sebuah jalan besar. Ruangannya ber AC dan berlantai keramik dan orang-orang yang bekerja di sana selalu berpakaian rapi dengan kemeja berdasi dilapisi jas, becelana kain dan bersepatu kulit mengkilap. Tapi itu hanya untuk orang-orang normal tak bertelinga. Sedangkan untuk orang-orang tak normal bertelinga seperti aku ini menempati ruang bawah tanah dari pabrik tersebut yang berhawa pengap dengan lantai teraso yang sudah pecah-pecah dengan pekerjaan yang berpeluh-peluh keringat. Aku tidak sendiri, banyak pula temanku yang bertelinga merasakan frustasi seperti yang kurasakan saat ini. Parman bahkan memotong kedua telinganya, tetapi tetap saja nampak dua lobang di sisi kiri dan kanan kepalanya.

Pak Karto adalah pemilik dari pabrik ini. Aku sering melihatnya berangkat ke kantor dan pulang dari kantor. 2 orang bodiguard selalu mendapinginya kemanapun dia berjalan. Tiap orang tak bertelinga selalu ketakutan terhadap orang yang bertelinga. Ketakutan tak beralasan kubilang, karena kami hanyalah kaum minoritas di negeri ini. Banyak yang sudah dibantai atau dibiarkan mati berlahan dengan penyakit telinga seperti yang diderita kakekku dan tetangga-tetanggaku yang lain dan terus terang aku juga ketakutan tertular penyakit tersebut. Penyakit ini tak bisa menular pada orang tak bertelinga. Banyak yang bilang bahwa penyakit ini sengaja dibuat oleh orang tak bertelinga untuk mengurangi orang bertelinga. Kembali ke Pak Karto, aku sudah mengawasinya sejak lama. Dia mempunyai seorang anak laki-laki tak bertelinga yang kira-kira berumur 5 tahun dan Pak Karto sangat sayang pada anak satu-satunya itu. Segala permintaaan anaknya selalu dipenuhinya.

Hari ini adalah jadwalku untuk pulang terakhir karena aku harus membersihkan ruangan tempatku bekerja. Banyak sekali bekas-bekas kain perca yang harus kubersihkan sore ini karena kami harus memenuhi pesanan ekspor yang harus selesai di akhir minggu ini. Terdengar deru mobil di luar pabrik, bergegas aku menuju pintu yang menghubungkan ruangan pengab ini dengan dunia luar. Kubuka sedikit pintu tersebut untuk mengintip ada apa di luar sana. Aku melihat rombongan para pembesar pabrik bergegas untuk pulang juga. Terlihat dalam rombongan itu Pak Karto yang selalu didampingi oleh 2 orang bodyguardnya. Aku tidak melihat anaknya, padahal ini adalah hari Rabu dan biasanya hari ini anaknya ikut pulang bersama dengan bapaknya karena siang hari Pak Karto selalu menjemput anaknya untuk dibawa ke kantor. Kelepaskan pandangan ke arah jalan raya, terlihat anak Pak Karto sedang bermain mobil-mobilan di pinggir jalan. Dan seketika itu mobilnya menggelinding di tengah jalan dan anak tersebut berusaha mengambilnya, dari arah depannya melintas sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Tanpa buang-buang waktu lagi aku langsung berlari menuju ke arah anak Pak Karto untuk menyelamatkannya. Aku melompat sambil berusaha meraih anak tersebut. Dalam detik tersebut aku mendengar berbagai suara. Yang pertama adalah suara tangisan anak Pak Karto, yang kedua adalah suara teriakan orang-orang tak bertelinga di depan Pabrik, yang ketiga adalah suara klakson dari truk yang melintas. Yang kusadari kemudian adalah aku sudah berada di pinggir jalan sambil memeluk anak Pak Karto yang terus menangis sambil meronta.

Pak Karto langsung datang tergopoh-gopoh diiringi dua orang bodyguardnya menemuiku, diambilnya anaknya dari pelukanku. Kemudian dia memandangku sejenak kemudian dia menampar kedua orang bodyguardnya dan memarahinya sambil membentak-bentak. Tak ada yang terucap sedikitpun dari mulut Pak Karto padaku, bahkan ucapan terimakasih. Aku menyingkir berlahan dan kuputuskan untuk kembali meneruskan pekerjaanku agar besok tak kena marah mandor. Setengah jalan menuju tempat kerjaku, aku dikejutkan oleh suara.

“Tunggu disitu pemuda” Kutengok kebelakang, ternyata yang memanggilku adalah Pak Karto, aku tidak menyangka sekali Pak Karto berbicara kepadaku. Aku berbalik dan kutundukkan kepalaku. Aku melihat sudah ada sepasang sepatu di depanku.

“Maafkan saya atas kelancangan saya menyentuh anak bapak”

“Sudah, jangan kau teruskan lagi bicara. Aku tak mau terlihat orang banyak kalau aku berbicara dengan orang bertelinga. Temui aku besok di ruanganku pukul 10 pagi tepat”

“Baik Pak”

“Teruskan pekerjaanmu anak muda”

Sesampainya di kandang aku masih berdebar-debar dan penasaran, apa yang akan terjadi besok. Apakah aku akan kenah marah gara-gara kejadian tadi. Tapi mengapa aku harus dimarahi, bukannya aku sudah menyelamatkan nyawa anak kesayangannya. Malam ini aku tak bisa tidur, selain karena pikiranku yang kalut juga karena suara batuk dari ibuku. Kemarin sudah ada cairan keluar dari telinga ibuku, sepertinya ibuku tertular oleh almarhum kakekku dan aku hanya tinggal tunggu giliran saja.

Pukul setengah 7 tepat aku sudah berada di pabrik dan pagi ini terasa panjang untuk menunggu sampai pukul 10. Pekerjaanku tak ada yang beres dan aku kena marah mandor beberapa kali karena menjatuhkan gulungan benang di lantai yang masih kotor karena kemarin aku menyapunya tidak bersih. Pukul 10 kurang 10 menit aku minta ijin ke mandor untuk menemui Pak Karto. Awalnya mandor tidak percaya sampai aku dijemput sendiri oleh seorang bodyguard Pak Karto. Di sepanjang jalan menuju ruangan Pak Karto, orang-orang kantor terlihat berbisik-bisik di kepala mereka yang tak bertelinga sambil menatapku.

Ruangan itu sangat sejuk dan wangi, Pak Karto sendiri sudah duduk menanti di lobi ruangannya.

“Silakan duduk” Katanya.

Belum pernah aku duduk di kursi yang seempuk ini. Aku mencoba duduk dengan tenang.

“Siapa namamu pemuda” Tanyak Pak Karto.

“Baskoro Pak” Jawabku

“Kau tau Baskoro, Jimmy adalah anakku satu-satunya. Aku tak tau bagaimana perasaanku apabila aku kehilangannya. Untuk itu aku sangat berterima kasih padamu atas kejadian kemarin”

“Sudah kewajiban saya sebagai pegawai pabrik ini untuk ikut menjaga anak Bapak” Jawabku.

“Baskoro, di depanmu sudah ada amplop yang berisi uang. Ini adalah bentuk terimakasih saya terhadapmu. Ambillah Baskoro. Kemudian saya sudah memutuskan untuk mengangkatmu menjadi pengawas lapangan dalam pabrik ini”

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku terus tertunduk sambil menahan air mata.

“Kau tau Baskoro, mungkin hanya aku satu-satunya orang normal tak bertelinga yang memberikan posisi kepada orang tak normal bertelinga di negeri ini. Ini semata karena rasa sayangku terhadap anakku. Bukan karena rasa iba terhadapmu. Kau bisa mulai kerja besok”

“Terimakasih Pak” Kataku sambil terisak.

*****

S

udah setengah tahun sejak aku mulai menduduki jabatan baruku sebagai pengawas lapangan. Hanya dari setengah tahun ini aku sudah bisa membeli sebuah rumah kecil tidak jauh dari pabrik dan bukan lagi sebuah kandang, ini karena kebaikan dari Pak Karto. Kuucapkan selamat tinggal pada kandang dan lingkungan kumuhku. Aku tak mau tertular pada penyakit telinga yang makin mewabah di kampungku. Orangtuaku, entah bagaimana nasib mereka mungkin mereka sudah mati terkena penyakit haram itu. Aku tak tahan dengan cacian dan makian mereka ketika aku melarat, kemudian mereka mendayu sendu sayang ketika aku kaya.

Kali ini aku benar-benar harus membuktikan pada Pak Karto bahwa aku pengawas lapangan yang baik ketika pabrik didera demonstrasi besar-besaran oleh pegawai bertelinga yang menuntut kenaikan upah. Bahkan akupun kena demo juga oleh mereka. Kulihat Parman mengacung-acungkan kertas bertuliskan Ganyang Penghianat Baskoro, Kardi ikut-ikutan meneriakkan Gantung Baskoro Bersama Pembesar Pabrik dan beberapa bekas temanku bertelinga yang lain. Pak Karto sudah menyerahkan mandat kepadaku untuk menyelesaikan masalah ini dan iming-iming kenaikan gaji dan jabatan ada di depanku. Aku sudah menyiasati hal ini dengan bekerja sama dengan preman setempat. Di tengah gemuruh demonstrasi besar-besaran di depan pabrik aku menyelinap keluar menuju kampung kumuh sial tempatku dulu terhina bersama para preman bayaran. Kuperintahkan preman-preman itu untuk membakar kandang-kandang semi permanen mereka. Hanya sekejap kampung itu sudah luluh lantak di makan api dan hanya tinggal mengatakan bahwa terjadi konslet pada salah satu rumah sudah cukup bagi polisi yang kubayar untuk bisa menutup kasus.

Para demonstran terpecah karena mereka berusaha menyelamatkan rumahnya yang terbakar, massa tidak lagi berkumpul di depan pabrik tetapi sekarang mereka panik berusaha mengais-ais sisa-sisa barang yang tidak termakan api. Mereka berbalik arah menganggapku dewa ketika aku menyantuni mereka yang menjadi korban kebakaran. Hanya sedikit yang dikeluarkan daripada harus menaikkan gaji dan tunjangan mereka. Pak Karto ikut hadir pura-pura bersedih di atas gelimpangan mayat yang terbakar oleh api, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak, perempuan dan orang tua yang ditinggal suaminya untuk berdemo. Yang masih hidup menyalahkan para lelaki dewasa karena berdemo pada orang yang baik hati seperti Pak Karto dan tentu Baskoro sang pengawas lapangan baik hati yang sebentar lagi naik pangkat sebagai staf pribadi Pak Karto. Di tengah tumpukan mayat aku melihat dua sosok hitam legam akibat terbakar, tapi aku masih mengenalinya. Ya, mereka adalah orangtuaku. Aku terpaku terdiam dan kali ini air mataku bukan air mata bohongan tetapi air mata sungguhan. Sungguh terlupakan olehku bahwa aku masih mempunyai orang tua di kampung ini.

Pabrik sekarang sudah berjalan lagi dengan lancar dan para pekerja tidak ada lagi yang protes mengenai kenaikan gaji karena mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Sore itu sepulang kerja aku menaiki mobilku dan kembali ke rumah baru pemberian Pak Karto atas jasaku menyelamatkan pabrik. Kupandangi cermin di kamarku dan aku kini menemukan manusia sempurna. Dua buah telingaku benar-benar menghilang dari kepalaku tanpa harus kupotong. Evolusi Darwin benar-benar terlaksana. Apabila ada organ tubuh yang tidak pernah dipakai maka organ tersebut akan mengecil dan semakin lama semakin menghilang.

Yogyakarta, 15 Juli 2005

Advertisements

Read Full Post »